Kabar Persyarikatan

Prof Achmad Jaenuri: AIK Bukan Sekadar Mata Kuliah, Lebih dari Urusan Akidah dan Ibadah

Redaksi Baturmu
15 Oktober 20263 Menit
Prof Achmad Jaenuri: AIK Bukan Sekadar Mata Kuliah, Lebih dari Urusan Akidah dan Ibadah

BATURMU.COM, KUBU RAYA — Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) tidak hanya sebatas mata kuliah wajib di perguruan tinggi, tetapi juga berpotensi besar untuk dikembangkan menjadi basis penelitian ilmiah. Hal ini mengingat cakupan AIK yang sangat luas dan tidak terbatas pada ranah akidah serta ibadah semata.

Penegasan tersebut disampaikan oleh Wakil Ketua Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof. Achmad Jaenuri, dalam acara Pelantikan Wakil Rektor ITIKES Muhammadiyah Kalimantan Barat pada Rabu (14/10).

Prof. Jaenuri menjelaskan bahwa karena luasnya cakupan AIK, banyak peneliti asing yang tertarik mengkaji Islam dan Muhammadiyah. Bahkan, riset para peneliti luar negeri kerap menemukan fakta-fakta mendalam yang kadang kurang disadari oleh warga Muhammadiyah sendiri.

“Bagaimana kita meneliti tentang statement yang ada di dalam Al-Qur’an itu untuk membuktikan kebenaran itu. Ini justru dilakukan oleh orang lain,” ungkap Jaenuri.

Ia menekankan agar kajian AIK tidak disempitkan hanya pada persoalan ibadah ritual. Aspek akhlak memang sangat penting, namun kajian AIK juga perlu menjangkau berbagai aspek lain untuk membuktikan keuniversalitasan ajaran Islam.

“Jadi jangan kita kalau bicara tentang AIK itu kaya masalah akidah, ibadah, dan akhlak gitu. Akhlak itu penting juga. Tapi kan juga harus merembet pada hal-hal yang kita klaim bahwa Islam itu agama yang sangat universal,” tegasnya.

Melalui penguatan penelitian berbasis AIK, diharapkan argumen ilmuwan Barat sekuler—yang menganggap agama hanya mengatur hubungan transendental antara manusia dan Tuhan—dapat dipatahkan. Bagi Muhammadiyah, Islam turut memberikan landasan norma dan prinsip pokok dalam bidang sosial, politik, ekonomi, hingga budaya.

Di samping mendorong penguatan akademik melalui AIK, Prof. Jaenuri mengingatkan pentingnya membangun jaringan dan komunikasi yang intensif antar-lembaga. Pimpinan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), khususnya Perguruan Tinggi Muhammadiyah-’Aisyiyah (PTMA), diimbau untuk selalu menjalin koordinasi yang baik dengan pimpinan persyarikatan di tingkat lokal maupun pusat.

Ia juga menegaskan kembali nilai utama dalam tradisi Muhammadiyah, yakni pengambilan keputusan melalui musyawarah. Menurutnya, setiap kebijakan yang dilahirkan merupakan hasil keputusan kolektif kelembagaan, bukan kehendak perorangan.

Bagikan berita ini: