Kabar Persyarikatan

Jangan Tunggu Makin Berat, Ahli Jiwa Imbau Masyarakat Tak Ragu Cari Bantuan Profesional

Redaksi Baturmu
15 Oktober 20264 Menit
Jangan Tunggu Makin Berat, Ahli Jiwa Imbau Masyarakat Tak Ragu Cari Bantuan Profesional

BATURMU.COM, BANDUNG — Kesehatan mental bukan sekadar kondisi saat seseorang selalu merasa bahagia atau terbebas dari masalah. Lebih dari itu, kesehatan jiwa ditandai oleh kemampuan dalam mengenali dan mengelola emosi, menghadapi tekanan hidup harian, menjalankan fungsi sosial, serta membangun hubungan yang harmonis dengan orang lain.

Pesan tersebut disampaikan oleh Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Rumah Sakit Muhammadiyah Kota Bandung, Gemah Nuripah, dalam forum Gerakan Subuh Mengaji pada Jumat (9/10).

Gemah menerangkan bahwa perasaan sedih, cemas, marah, maupun kecewa pada dasarnya adalah wajar dan manusiawi. Namun, kondisi tersebut membutuhkan perhatian serius apabila terjadi secara berkepanjangan, terasa semakin berat, atau telah mengganggu aktivitas kehidupan sehari-hari.

Ia menyoroti masih adanya pandangan keliru di tengah masyarakat yang memicu keengganan untuk mendatangi psikiater. Sebagian orang menyamakan konsultasi psikiater hanya untuk gangguan jiwa berat, atau menganggap meminta bantuan sebagai tanda kelemahan diri.

“Faktanya, mencari bantuan adalah bagian dari menjaga kesehatan. Kesehatan jiwa atau mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik,” tegas Gemah.

Gemah mengingatkan agar masyarakat tidak terburu-buru menyimpulkan kondisi jiwanya hanya berdasarkan informasi di media sosial. Meski kuesioner kesehatan mental bisa dipakai sebagai skrining awal, penegakan diagnosis yang akurat tetap memerlukan pemeriksaan langsung dari tenaga medis profesional.

Beberapa tanda perubahan yang perlu diwaspadai mencakup ranah pikiran, perasaan, dan perilaku yang berlangsung menetap. Perubahan pikiran dapat berupa kesulitan berkonsentrasi, pikiran negatif berulang, cemas berlebihan, hingga rasa putus asa. Dari sisi emosional, muncul kesedihan berlarut, rasa mudah tersinggung, atau kehilangan kemampuan menikmati hal-hal yang disukai.

Pada kasus depresi, misalnya, suasana hati yang sangat tertekan atau kehilangan minat dapat berlangsung setidaknya dua minggu. Tanda fisik dan perilaku juga kerap muncul, seperti gangguan pola tidur, perubahan nafsu makan, kelelahan berlebih, hingga kebiasaan mengurung diri dan menarik diri dari lingkungan sosial.

“Jangan menunggu sampai kondisi menjadi sangat berat,” pesannya.

Ia menekankan pertolongan darurat harus segera dicari apabila seseorang mulai memiliki ide atau dorongan bunuh diri, perilaku menyakiti diri sendiri maupun orang lain, kebingungan berat, halusinasi, atau kehilangan kendali diri. Dalam kondisi berisiko ini, pasien tidak boleh dibiarkan sendirian dan harus segera dirujuk ke fasilitas kesehatan terdekat.

Terkait mekanisme penanganan, Gemah menjelaskan bahwa konsultasi ke psikiater tidak selalu berujung pada pemberian obat. Penanganan medis disesuaikan dengan kondisi pasien, mulai dari wawancara evaluasi, edukasi keluarga, hingga pemberian psikoterapi seperti cognitive behavioral therapy (CBT) untuk mengubah pola pikir dan perilaku yang tidak efektif.

Selain itu, psikiater dan psikolog berkolaborasi serta memiliki peran yang saling melengkapi. Psikolog berfokus pada asesmen psikologis dan konseling, sedangkan psikiater menangani intervensi medis serta psikoterapi mendalam.

Gemah meluruskan bahwa gangguan jiwa tidak disebabkan oleh satu faktor tunggal, melainkan kombinasi dinamis antara faktor biologis (genetik dan kondisi tubuh), psikologis (mekanisme mental dan pola pengasuhan), serta sosial (tekanan lingkungan). Oleh karena itu, memeriksakan diri ke profesional jiwa adalah bentuk penanganan medis yang rasional dan penting.

Bagikan berita ini: