Perkuat Peran di Masyarakat, Muhammadiyah Tekankan Integrasi Dakwah, Tajdid, dan Kerja Kolektif

BATURMU.COM, YOGYAKARTA — Keberhasilan dan kekuatan Muhammadiyah dalam merespons berbagai dinamika sosial keagamaan bersumber dari keterpaduan tiga pilar utama: gerakan Islam, dakwah, dan tajdid. Ketiga pilar ini dijalankan secara kolektif untuk memperkokoh kehidupan beragama sekaligus menyelesaikan tantangan masyarakat.
Hal tersebut disampaikan oleh Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Talqis Nurdianto, dalam kajian yang berlangsung di Masjid KH Sudja, Yogyakarta, Kamis (22/10).
Dalam pemaparannya, Talqis menjelaskan bahwa gerakan Islam merupakan fondasi dari seluruh napas aktivitas organisasi. Penerapannya mengintegrasikan ajaran agama dengan pendekatan keilmuan melalui tiga metode utama: bayani (berdasarkan Al-Qur'an dan Hadis), burhani (berlandaskan penalaran rasional dan keilmuan), serta irfani (menyentuh aspek batin dan penghayatan).
Melalui pendekatan ini, Persyarikatan berupaya membina serta membenahi akidah, ibadah, akhlak, dan muamalah warga secara berkelanjutan.
“Ketika seseorang masuk Muhammadiyah, mari dibimbing, dibina, dan diajari,” kata Talqis.
Ia menegaskan bahwa pendampingan yang merangkul jauh lebih penting ketimbang menjauhkan orang-orang yang belum memahami tata cara ibadah secara sempurna.
Adapun pilar dakwah direalisasikan melalui langkah nyata seperti tabligh, pendidikan, advokasi, serta pelayanan sosial. Sementara pilar tajdid memberikan ruang bagi inovasi dan pembaruan pemikiran Islam dalam menjawab isu-isu kontemporer, seperti lahirnya Fikih Air dan Fikih Kebencanaan karya Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah.
Secara khusus, Talqis menggarisbawahi pentingnya Fikih Air untuk mengedukasi masyarakat agar lebih bijak, hemat, dan bertanggung jawab dalam mengelola sumber daya air.
Keberhasilan pilar-pilar tersebut, lanjutnya, sangat bergantung pada sinergi seluruh warga Muhammadiyah yang memiliki latar belakang profesi beragam, mulai dari tenaga medis, pendidik, petani, mubalig, hingga pelaku usaha. Keberagaman ini menjadi modal sosial yang kuat jika setiap individu mengambil peran sesuai kapasitas masing-masing.
Talqis mengibaratkan organisasi layaknya sebuah bangunan yang tersusun dari beragam material dengan fungsi saling melengkapi.
“Pada bagian mana pun kita berada dalam satu bangunan itu, jangan meremehkan diri sendiri,” pukasnya.
Prinsip kerja kolektif dan pembagian peran ini juga menjadi pilar utama dalam menjaga keberlanjutan amal usaha Muhammadiyah di bidang kesehatan, pendidikan, dan filantropi. Ia turut mengingatkan bahwa kepemimpinan di lingkungan Muhammadiyah senantiasa berorientasi pada pengabdian, bukan perebutan kekuasaan.
Sebagai penutup, Talqis berpesan agar aktivitas berorganisasi senantiasa memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kualitas keimanan, wawasan keislaman, serta kemaslahatan masyarakat luas.
