Kabar Persyarikatan

Peringati Milad Satu Abad Suara ‘Aisyiyah, Haedar Nashir Soroti Profesionalisme dan Kemandirian Media

Redaksi Baturmu
11 Oktober 20263 Menit
Peringati Milad Satu Abad Suara ‘Aisyiyah, Haedar Nashir Soroti Profesionalisme dan Kemandirian Media

BATURMU.COM, YOGYAKARTA — Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas pencapaian milad satu abad majalah Suara ‘Aisyiyah. Momen ini dinilainya sebagai tonggak sejarah yang sangat monumental dalam dunia literasi persyarikatan.

Apresiasi tersebut disampaikan Haedar saat memberikan amanat dalam acara peringatan yang berlangsung di SM Tower Malioboro, Sabtu (10/10). Ia menekankan bahwa bertahan hingga kurun waktu seratus tahun merupakan prestasi langka bagi sebuah media cetak.

“Tentu ini merupakan suatu hal yang monumental karena tidak banyak majalah yang mampu bertahan selama satu abad lamanya,” ujar Haedar.

Haedar menegaskan bahwa usia 100 tahun harus dijadikan pijakan refleksi sekaligus proyeksi arah masa depan Suara ‘Aisyiyah. Meskipun memiliki potensi basis pembaca yang sangat besar (captive market) dari jutaan anggota dan kader ‘Aisyiyah, media tetap berhadapan dengan tantangan pasar semu (pseudo-market).

Oleh karena itu, ia mendorong seluruh pengelola untuk merancang visi pengembangan yang lebih maju dan profesional. Langkah ini harus ditopang oleh kualitas produksi majalah yang tidak hanya padat substansi, tetapi juga disajikan secara menarik agar dapat menjadi rujukan utama masyarakat luas.

Guna mencapai standar profesionalisme tersebut, Haedar meminta para redaktur dan jajaran pengelola untuk terus mengasah pengetahuan serta memperluas wawasan.

Di sisi lain, perkembangan teknologi informasi yang pesat membuat media cetak harus bersaing ketat dengan media digital yang menawarkan kecepatan akses. Haedar mengingatkan agar Suara ‘Aisyiyah tidak terperangkap dalam "lingkaran setan" pengelolaan media, terutama terkait sistem manajemen dan finansial.

Kondisi dilematis tersebut biasanya muncul ketika tuntutan profesionalisme memerlukan investasi besar untuk teknologi dan sumber daya manusia, sementara kapasitas finansial yang terbatas membuat media kesulitan membiayai operasionalnya sendiri.

“Di situlah tugas pimpinan umum, bukan pimpinan redaksi untuk berpikir bagaimana pengembangan Suara Aisyiyah hingga bisa bukan hanya menghidupi dirinya sendiri tetapi bahkan berkembang dan melanjutkan kehidupannya, eksistensinya jauh lebih mekar lagi,” tegas Haedar.

Sebagai penutup, Haedar mengajak seluruh pengelola untuk menguatkan niat yang tulus demi menumbuhkan etos keunggulan dan kemajuan. Sikap tersebut perlu dipadukan dengan kesabaran dalam menghadapi berbagai dinamika tantangan maupun kritik.

Ia berharap majalah Suara ‘Aisyiyah terus menginspirasi para kader dan pimpinan dalam merawat warisan sejarah literasi, sekaligus membawa misi dakwah rahmatan lil 'alamin dan Islam berkemajuan.

Bagikan berita ini: