Dorong Kualitas Pendidikan Nasional, Muhammadiyah Imbau Kebijakan Pendidikan Berkelanjutan

BATURMU.COM, YOGYAKARTA — Muhammadiyah terus menunjukkan komitmennya dalam dunia pendidikan Indonesia sejak awal berdiri. Hingga saat ini, persyarikatan tersebut mengelola 6.024 sekolah dan madrasah yang tersebar di berbagai wilayah tanah air hingga mancanegara, dengan jumlah peserta didik melampaui satu juta siswa yang terus meningkat signifikan pada tahun ini.
Sekretaris Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Muhammad Sayuti, menyampaikan bahwa dengan cakupan yang luas tersebut, Muhammadiyah memegang peran yang sangat strategis dalam memajukan dunia pendidikan nasional.
“Muhammadiyah adalah stakeholder penting bagi lembaga pendidikan, dan kita harus menjadi bagian penting dari perjuangan pendidikan Indonesia,” ujar Sayuti saat menjadi pembicara dalam Kajian Malam Sabtu (KAMASTU) Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) DIY di Aula Kantor Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DIY, Rejowinangun, Kotagede, Kota Yogyakarta, Jumat malam (9/10).
Dalam pemaparannya, Sayuti menyoroti berbagai tantangan mendasar pendidikan di Indonesia, salah satunya tecermin dari capaian Programme for International Student Assessment (PISA). Menurutnya, hasil PISA perlu menjadi perhatian serius bersama, terutama terkait pentingnya penguatan kemampuan literasi, numerasi, dan sains para peserta didik.
Ia menekankan bahwa perbaikan kualitas pendidikan tidak boleh berhenti pada perluasan akses sekolah semata. Penguatan mutu proses pembelajaran secara mendalam mutlak dilakukan agar peserta didik memiliki kompetensi yang berdaya saing.
Sayuti menilai hasil PISA seharusnya dimanfaatkan sebagai indikator makro untuk mengevaluasi kondisi pendidikan nasional secara menyeluruh. Evaluasi tersebut perlu ditindaklanjuti melalui kebijakan yang konsisten dan berorientasi jangka panjang, bukan berorientasi jangka pendek yang mudah berganti setiap kali ada pergantian kepemimpinan.
“Jadi, ini adalah problematika pendidikan Indonesia. Problem kita adalah kebijakan pendidikan itu tidak menjadi komitmen jangka panjang. Kita harus mendapatkan lesson learned dari situasi itu,” tegas Sayuti.
Lebih jauh, ia mengakui bahwa membenahi dunia pendidikan bukanlah perkara yang mudah. Selain membutuhkan komitmen berkesinambungan, sektor pendidikan di Indonesia kerap dihadapkan pada tantangan birokrasi yang terlalu formalistik sehingga berisiko mengesampingkan substansi utama pembelajaran.
Dalam kondisi tersebut, Muhammadiyah diharapkan mampu mengambil peran penting dengan menghadirkan pendekatan pendidikan yang lebih substantif, yakni berfokus pada peningkatan kualitas pembelajaran dan perkembangan peserta didik ketimbang sekadar memenuhi prosedur administratif.
“Jadi memang bicara problem pendidikan itu abot (berat). Kadang-kadang juga birokrasi pendidikan terasa sangat formalistik. Nah, Muhammadiyah harusnya bisa menghindari program-program formalistik tadi ke arah yang substansial,” pungkasnya.
