Kabar Persyarikatan

Meneladani Kasman Singodimedjo: Merajut Keislaman dan Keindonesiaan Sejak Sumpah Pemuda

Redaksi Baturmu
28 Oktober 20264 Menit
Meneladani Kasman Singodimedjo: Merajut Keislaman dan Keindonesiaan Sejak Sumpah Pemuda

BATURMU.COM, JAKARTA — Pemuda senantiasa memegang peranan krusial dalam panggung sejarah perjuangan Indonesia. Semangat tersebut terekam kuat dalam peristiwa bersejarah Sumpah Pemuda pada tahun 1928, saat beragam kelompok pemuda lintas daerah dan latar belakang agama berembuk melintasi sekat-sekat perbedaan demi mewujudkan cita-cita persatuan kebangsaan.

Persatuan dalam Sumpah Pemuda tidak lahir dalam ruang kosong. Jauh sebelum ikrar 1928 digelorakan, berbagai gerakan kepemudaan seperti Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Celebes, Jong Ambon, Jong Bataks Bond, hingga Jong Islamieten Bond (JIB) telah tumbuh membawa latar belakang keagamaan, pendidikan, dan daerah masing-masing.

Proses dialog antar-organisasi ini dimulai sejak Kongres Pemuda I di Batavia pada 1926, sebelum akhirnya Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI) menggagas Kongres Pemuda II pada 27–28 Oktober 1928. Sumpah Pemuda menjadi titik balik penting yang menegaskan bahwa identitas kedaerahan tidak perlu dihapuskan, melainkan ditempatkan dalam kerangka cita-cita bersama sebagai satu bangsa, Indonesia.

Di antara organisasi yang berkontribusi, Jong Islamieten Bond (JIB) memegang peranan penting. Berdiri pada 1925, JIB menjadi wadah perjumpaan bagi kalangan pelajar Muslim terdidik. Salah satu tokoh sentral di balik pergerakan ini adalah Mr. H.R. Kasman Singodimedjo (1904–1982).

Langkah Kasman dalam mendirikan dan menggerakkan JIB didasari atas kepeduliannya terhadap pentingnya nilai-nilai Islam dalam perjuangan nasional, terutama ketika forum kepemudaan kala itu sempat melarang pembahasan mengenai agama. Bagi Kasman, keislaman dan keindonesiaan bukanlah dua hal yang bertentangan, melainkan saling mengokohkan.

"Persatuan bukan sekadar hasil kompromi sesaat, melainkan buah dari konsistensi merajut nilai-nilai Islam dan keindonesiaan sejak masa muda hingga berjuang di lembaga-lembaga negara."

Kasman lahir di Purworejo pada 25 Februari 1904. Perjalanan pendidikannya membentang dari HIS, MULO, STOVIA, hingga meraih gelar Meester in de Rechten (Mr.) dari Rechtshogeschool Jakarta pada 1939. Sebelum memimpin JIB pada periode 1929–1935, ia telah aktif di Jong Java sejak 1925.

Tidak hanya aktif di ranah pergerakan pemuda, Kasman juga mengabdikan diri di Muhammadiyah. Ia tercatat sebagai pendidik di AMS Muhammadiyah Jakarta pada 1936 serta Mu’allimin dan Mu’allimat Muhammadiyah pada 1939. Kasman pernah memimpin Muhammadiyah Wilayah Jakarta, Bogor, dan Banten pada 1941, serta dipercaya sebagai anggota dan Wakil Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 1949–1956.

Kiprah dan kepemimpinan Kasman semakin teruji di masa-masa kritis menjelang dan sesudah kemerdekaan. Sebagai Daidanco (komandan batalyon) Pembela Tanah Air (PETA) Jakarta, ia berperan penting dalam mengamankan situasi sekitar Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, serta hadir sebagai figur penengah dalam momen penting sidang PPKI pada 18 Agustus 1945.

Atas dedikasinya sebagai dai, politikus, dan pejuang kemerdekaan yang konsisten merajut persatuan bangsa, pemerintah menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Mr. Kasman Singodimedjo melalui Keppres Nomor 123/TK/Tahun 2018.

Bagikan berita ini: