Kisah Mahasiswa Nonmuslim Menemukan Ruang Toleransi dan Keberagaman di Kampus Muhammadiyah

BATURMU.COM, YOGYAKARTA — Perguruan tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) terus membuktikan komitmennya sebagai ruang belajar yang ramah dan inklusif bagi semua kalangan, termasuk mahasiswa nonmuslim. Pengalaman nyata mengenai indahnya toleransi dan saling menghargai di lingkungan kampus berbasis Islam ini dibagikan oleh dua mahasiswa dalam tayangan Lensamu Podcast.
Dalam diskusi tersebut, hadir Dwi Darma Puspitasari, mahasiswi Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Ahmad Dahlan (UAD), bersama Suster Sebastiana Bwarleling, mahasiswi D3 Radiologi Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta. Keduanya menceritakan dinamika berkuliah di lingkungan kampus yang mayoritas mahasiswanya beragama Islam, yang pada akhirnya mengikis kekhawatiran dan prasangka awal mereka.
Dwi menceritakan, keputusannya memilih UAD berawal dari informasi di media sosial serta pengalaman keluarganya, terutama sang kakak yang pernah menempuh pendidikan di perguruan tinggi Muhammadiyah. Meski sempat mengira lingkungan kampus Muhammadiyah sangat ketat dalam hal keagamaan, pandangan tersebut perlahan berubah setelah ia menjalani masa perkuliahan.
Ia mengaku mendapatkan perlakuan yang ramah dan adil dari para dosen, tenaga kependidikan, maupun teman-teman seangkatannya, meskipun dirinya merupakan mahasiswa nonmuslim pertama di prodi Bimbingan dan Konseling UAD angkatan 2023 setelah sekian lama.
“Saya juga mendapatkan hak saya sebagai seorang mahasiswa nonmuslim. Saya mendapatkan hak yang sama, tidak dibeda-bedakan,” ungkap Dwi.
Keterbukaan ini juga terasa saat mereka mendiskusikan mata kuliah Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK). Dwi dan teman-temannya saling bertukar pikiran serta belajar memahami ajaran agama masing-masing secara terbuka. Pihak program studi pun memberikan pelayanan yang jelas terkait konversi mata kuliah AIK bagi mahasiswa nonmuslim.
“Di sini saya juga banyak belajar bagaimana kita menjadi manusia,” tuturnya.
Pengalaman serupa dirasakan oleh Suster Sebastiana, seorang biarawati Katolik yang memilih melanjutkan studi D3 Radiologi berakreditasi unggul di UNISA Yogyakarta. Sebelum berpindah ke Yogyakarta, ia telah bertugas selama lima tahun di Ternate dan terbiasa hidup berdampingan dengan masyarakat Muslim. Meski demikian, rasa cemas sempat menghampirinya saat awal mendaftar di UNISA.
Kekhawatiran itu sirna begitu ia merasakan penerimaan hangat dari sivitas akademika kampus. Meski penampilan dirinya sebagai biarawati sempat menarik perhatian pada awal kedatangan, pimpinan kampus, dosen, dan sesama mahasiswa menyambutnya dengan terbuka.
Momen-momen sederhana, seperti menemani kawan-kawannya menuju Masjid Walidah Dahlan saat waktu salat tiba, menjadi pengalaman berkesan yang semakin mempererat hubungan pertemanan mereka.
“Saya merasa bahwa mereka membutuhkan saya dan saya membutuhkan mekea,” kata Suster Sebastiana.
Suster Sebastiana juga mengapresiasi toleransi yang ditunjukkan para dosen saat momen berdoa sebelum dan sesudah perkuliahan. Dosen senantiasa memberinya ruang untuk berdoa sesuai keyakinan Katolik yang dianutnya.
“Bagi saya, tidak ada perbedaan. Bagaimana kita mengimani iman kita masing-masing,” ujarnya.
Refleksi keberagaman ini dinilai sangat relevan dengan semangat Sumpah Pemuda. Kedua mahasiswi tersebut mengajak generasi muda untuk merawat persatuan melalui keterbukaan, keterampilan berpikir kritis dalam menyaring informasi di media sosial, serta membiasakan etika dasar seperti mengucapkan terima kasih, meminta maaf, dan meminta tolong.
Bagi mereka, persatuan bangsa Indonesia hanya dapat terwujud jika setiap individu bersedia saling menghormati, bekerja sama, dan menerima perbedaan latar belakang maupun agama dengan tulus.
