Majelis Tabligh PP Muhammadiyah: Kesalehan Sosial Jadi Indikator Utama Kualitas Keberislaman

BATURMU.COM, BANTUL — Kualitas keberislaman seorang Muslim tidak hanya diukur dari ibadah ritual pribadi, melainkan juga dari sejauh mana kehadirannya memberikan dampak positif bagi lingkungan sosial di sekitarnya.
Hal tersebut disampaikan oleh Wakil Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Gita Danu Pranata, dalam acara Pengajian yang diselenggarakan oleh Pengurus Ranting Muhammadiyah (PRM) Tamantirto Utara pada Senin (28/10).
Gita menjelaskan bahwa meskipun nilai tauhid dan ketaatan dalam menjalankan ibadah khusus tetap menjadi fondasi yang tidak boleh diabaikan, kesalehan sosial menempati posisi puncak dalam mengukur kualitas keimanan seseorang. Bagi Muhammadiyah, ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW berorientasi pada kemaslahatan seluruh alam (rahmatan lil 'alamin), bukan sekadar mencari keuntungan spiritual untuk diri sendiri.
“Ternyata spiritualitas individu, religiusitas individu atau baik dalam ibadah akan tetapi hanya untuk pribadinya, itu ternyata baru level dua,” ungkap Gita.
Oleh karena itu, dalam kehidupan bermasyarakat yang paling dekat, setiap Muslim memiliki kewajiban untuk menjalin hubungan harmonis dengan para tetangga di sekitarnya, baik yang dekat maupun jauh, tanpa memandang ada tidaknya ikatan darah.
Membangun relasi yang baik dengan tetangga merupakan tuntunan nyata dalam Islam. Gita memaparkan empat langkah penting untuk mewujudkan hubungan kemasyarakatan yang harmonis:
Pertama, saling mengenal antar sesama tetangga. Kedua, saling memahami agar dapat menjaga hak dan kewajiban masing-masing tanpa saling melanggar. Ketiga, saling mengingatkan untuk menjauhi keburukan dan bersama-sama mengajak kepada kebaikan.
Adapun prinsip keempat adalah saling menanggung (takaful). Namun, Gita memberikan catatan khusus bahwa prinsip keempat ini umumnya lebih dominan berlaku dalam ikatan keluarga.
“Takaful ini berlaku untuk keluarga ini, anak ke orang tua itu takaful,” jelasnya.
