Kabar Persyarikatan

Kembangkan Potensi Sejarah, Muhammadiyah Rancang Jaringan Wisata Edukasi Terintegrasi

Redaksi Baturmu
26 Oktober 20263 Menit
Kembangkan Potensi Sejarah, Muhammadiyah Rancang Jaringan Wisata Edukasi Terintegrasi

BATURMU.COM, YOGYAKARTA — Muhammadiyah mendorong pengoptimalan potensi sejarah yang dimilikinya melalui pengembangan jaringan wisata edukasi terintegrasi. Langkah ini diambil mengingat rekam jejak panjang organisasi yang berdiri sejak sebelum kemerdekaan tersebut belum digarap secara maksimal sebagai destinasi edukasi bagi publik.

Sejumlah lokasi bersejarah Muhammadiyah sebenarnya memiliki daya tarik kuat. Beberapa di antaranya meliputi kawasan Kampung Kauman—yang memuat Langgar Kidoel, kediaman Kiai Ahmad Dahlan, makam Nyai Walidah, serta Masjid Gedhe—lalu Kampung Karangkajen yang menjadi lokasi makam Kiai Dahlan, hingga Museum Muhammadiyah yang berada di Kampus 4 Universitas Ahmad Dahlan (UAD).

Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, menilai lokasi-lokasi sejarah tersebut sangat potensial jika dikemas dalam satu paket wisata edukasi yang saling terhubung. Konsep terintegrasi ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang utuh tentang sejarah Muhammadiyah sekaligus memudahkan masyarakat yang ingin berkunjung tanpa perlu melalui perantara atau broker.

Terkait kegiatan ziarah ke makam pendiri Muhammadiyah, Haedar menegaskan bahwa ziarah kubur merupakan bagian dari ajaran Islam dan bukan hal yang tabu. Namun, ia memberikan catatan penting mengenai adab dan tata cara pelaksanaannya agar tetap sesuai dengan akidah.

“Tolong di makam jangan meminta-minta. Meminta cepet kaya. Itu namanya menyalahi akidah Muhammadiyah. Tapi ke makamnya Nyai Walidah ke belakang Masjid Agung, ke makam Kiai Dahlan di kampung Karangkajen itu untuk ambil inspirasi, dan paling tidak mendoakan ke yang ada di situ,” kata Haedar dalam Silaturahmi Nasional Lembaga Pengembang UMKM dan Ekonomi Kreatif (Silatnas LPEK) di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Sabtu (24/10).

Selain fokus pada objek sejarah outdoor, Haedar juga menyoroti pentingnya memaksimalkan peran Museum Muhammadiyah dan perpustakaan. Meskipun tren kunjungan ke museum secara nasional menunjukkan peningkatan, ia tidak memungkiri bahwa minat warga Muhammadiyah sendiri untuk datang ke museum atau perpustakaan masih relatif rendah. Banyak pengunjung museum saat ini juga sebatas berfoto tanpa menyerap nilai edukasi yang disajikan.

Untuk menyiasati hal tersebut, Haedar menyarankan agar pengelola menyediakan sudut-sudut foto yang menarik dan kekinian (instagenik). Strategi ini diharapkan bisa menjadi pintu masuk awal untuk menarik perhatian pengunjung, sebelum akhirnya mereka tertarik mendalami isi museum dan perpustakaan secara lebih luas.

Bagikan berita ini: