Kabar Persyarikatan

Usung Konsep Neo-Philanthropy, PP Muhammadiyah Minta Lazismu Perluas Dampak Sosial

Redaksi Baturmu
6 November 20263 Menit
Usung Konsep Neo-Philanthropy, PP Muhammadiyah Minta Lazismu Perluas Dampak Sosial

BATURMU.COM, SEMARANG — Gerakan filantropi Islam di lingkungan Muhammadiyah dituntut untuk terus berinovasi dalam menghadapi tantangan zaman yang kian kompleks. Bendahara Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Hilman Latief, menekankan pentingnya mengadopsi pendekatan neo-philanthropy, yakni konsep yang memadukan filantropi konvensional dengan model investasi sosial yang berkelanjutan.

Dalam acara yang berlangsung di Kota Semarang, Jumat (6/11), Hilman menyampaikan bahwa penguatan dana sosial perlu didorong melalui skema blended financing dengan menggandeng sektor korporasi.

“Kita harus mulai mendorong gerakan filantropi yang konvensional itu dengan model-model investment,” ujar Hilman.

Ia menjelaskan bahwa investasi sosial perlu diarahkan pada pemberdayaan berbasis kawasan yang disesuaikan dengan karakteristik wilayah masing-masing. Oleh karena itu, Lazismu di setiap daerah diharapkan memiliki peta fokus gerakan yang jelas dan terukur.

“Konsep inovasi sosial dan social investment-nya dengan dana yang cukup besar itu harus kelihatan jejaknya yang lebih kuat,” tambahnya.

Menandai usia Lazismu yang kini menyentuh 25 tahun, Hilman mengusulkan dilakukannya proses evaluasi dan analisis kontribusi secara komprehensif. Langkah ini penting untuk mengukur dampak nyata atau Social Return on Investment (SROI) dari berbagai program yang telah berjalan, baik yang berdampak langsung (tangible) maupun tidak langsung (intangible).

Selain itu, PP Muhammadiyah juga telah menyiapkan instrumen riset untuk mengkaji tiga pilar utama gerakan, atau yang disebut sebagai Trisula Muhammadiyah, yaitu Lazismu, Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM), dan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC).

Meski mengapresiasi kinerja dan dedikasi tinggi ketiga lembaga tersebut, Hilman menekankan pentingnya efisiensi manajemen melalui pemanfaatan analisis data dan teknologi digital. Menurutnya, kerja keras harus diimbangi dengan kerja cerdas yang berorientasi pada hasil akhir.

“Saya ingin kerja-kerja cerdas itu kemudian bisa dirumuskan sampai ke outcome-nya,” tegas Hilman.

Menutup keterangannya, Hilman optimistis Lazismu mampu naik kelas dan tidak berpuas diri dengan capaian yang ada. Ia mendorong para pengurus untuk membangun reputasi global agar gerakan filantropi Muhammadiyah semakin diakui oleh lembaga-lembaga internasional.

“Bagaimana saya ingin mendorong Lazismu itu direcognize dengan baik oleh UNDP, oleh WHO, dan lembaga-lembaga internasional lainnya. Ya karena memang sudah saatnya. Jadi jangan dibandingkan dengan yang terjadi 5, 10, atau 20 tahun lalu, tapi harus sudah punya mindset yang betul-betul cerdas berkemajuan,” pungkasnya.
Bagikan berita ini: