Kabar Persyarikatan

Uji Coba Program Makan Bergizi Prasmanan Muhammadiyah: Tak Hanya Penuhi Gizi, Juga Latih Soft Skill Siswa

Redaksi Baturmu
29 Oktober 20263 Menit
Uji Coba Program Makan Bergizi Prasmanan Muhammadiyah: Tak Hanya Penuhi Gizi, Juga Latih Soft Skill Siswa

BATURMU.COM, YOGYAKARTA — Badan Pelayanan dan Pemenuhan Gizi Muhammadiyah (BPPGM) mulai menggelar uji coba pelaksanaan program Makan Bergizi dengan model prasmanan. Uji coba ini diterapkan di 20 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang tersebar di enam provinsi, yaitu Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, Lampung, Kalimantan Utara, dan Sulawesi Tenggara.

Direktur BPPGM, M. Nurul Yamin, menjelaskan bahwa penerapan konsep prasmanan tidak sekadar berfokus pada pemenuhan nutrisi peserta didik, tetapi juga menjadi strategi untuk menjaga mutu sajian makanan sekaligus membentuk karakter positif siswa.

Menurutnya, penyajian makanan secara prasmanan memudahkan proses pengawasan terhadap mutu dan higienitas pangan secara lebih ketat. Dengan demikian, kebersihan dan kualitas gizi yang diterima siswa dapat senantiasa terjaga.

Selain memperketat kualitas pangan, model prasmanan ini dirancang memiliki nilai edukasi yang kuat, terutama dalam melatih keterampil psikologis dan sosial (soft skill) siswa sejak dini.

“Model prasmanan ini tidak hanya memperhatikan kualitas pangan yang disajikan, tetapi juga memiliki nilai pendidikan. Melalui praktik makan bersama, siswa dapat belajar budaya antre, menaati aturan, bertanggung jawab, berdoa sebelum & sesudah makan, serta membangun kebersamaan,” terang Yamin, Kamis (29/10).

Yamin menambahkan bahwa pembiasaan sederhana seperti mengantre dengan tertib, mengambil makanan sesuai porsi kebutuhan, menjaga kebersihan lingkungan, serta menghargai orang lain merupakan bagian penting dari pembentukan karakter yang dapat ditanamkan lewat aktivitas harian di sekolah.

Kendati memiliki banyak manfaat, model prasmanan belum bisa diterapkan di seluruh SPPG Muhammadiyah. Hal ini disebabkan oleh kebutuhan perlengkapan yang harus memenuhi standar tertentu serta perbedaan kondisi di setiap titik penerima manfaat.

Bagi Muhammadiyah, tradisi makan bersama dengan sistem prasmanan sebenarnya bukan hal baru. Pola ini telah lama diterapkan di lingkungan lembaga pendidikan Muhammadiyah, khususnya di pesantren dan sekolah berasrama (boarding school).

Pengalaman panjang tersebut menjadi modal berharga bagi Muhammadiyah untuk merancang skema pelayanan Makan Bergizi yang terpadu, yakni mengombinasikan pemenuhan gizi dengan penanaman nilai-nilai karakter positif.

“Dalam pelaksanaannya, Muhammadiyah mengembangkan beberapa skema pelayanan yang disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan penerima manfaat. Skema tersebut meliputi pelayanan berbasis sekolah (school kitchen), pesantren, perguruan tinggi, rumah sakit, panti asuhan, serta layanan umum,” pungkas Yamin.

Pendekatan yang beragam ini memungkinkan penyelenggaraan program Makan Bergizi disesuaikan dengan kondisi lingkungan setempat, sekaligus memperkuat sistem pengawasan mulai dari pemilihan bahan baku, pengolahan, hingga pendistribusian makanan kepada siswa.

Bagikan berita ini: