Kabar Persyarikatan

PP Muhammadiyah Minta Kader IMM Jadi Teladan dan Penggerak Kesalehan Peradaban

Redaksi Baturmu
29 Oktober 20264 Menit
PP Muhammadiyah Minta Kader IMM Jadi Teladan dan Penggerak Kesalehan Peradaban

BATURMU.COM, YOGYAKARTA — Kesalehan kader Muhammadiyah diharapkan tidak berhenti pada ibadah personal dan kepedulian sosial semata, melainkan harus bertransformasi menjadi kesalehan peradaban. Hal tersebut ditegaskan oleh Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Fathurrahman Kamal.

Pernyataan itu disampaikan Fathurrahman saat memberikan amanat dalam kegiatan Darul Arqam Madya (DAM) yang diselenggarakan oleh Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Sleman di Tabligh Institute, Rabu (28/10).

Dalam pemaparannya, Fathurrahman menguraikan hakikat filosofis dari kata umat yang memiliki keterkaitan erat dengan konsep amanah, aman, imam, dan makmum. Ia juga mengingatkan bahwa dalam Al-Qur’an, Nabi Ibrahim AS disebut sebagai satu umat secara mandiri karena kualifikasi unggul yang miliki beliau.

“IMM ini penting sebagai sebuah gerakan kolektif, tetapi satu orang itu bisa merepresentasikan satu komunitas yang besar manakala kualifikasinya masuk,” ujar Fathurrahman.

Ia menjelaskan bahwa kata umat juga mengandung makna mengarahkan diri pada sebuah tujuan. Oleh karena itu, para kader IMM dituntut memiliki orientasi yang jelas serta imajinasi strategis mengenai masa depan bangsa.

“Anak IMM itu punya suatu imajinasi masa depan. Mau ke mana Indonesia ini dibawa?” tuturnya.

Merujuk pada pemikiran akademisi Islam Majid Irsan al-Kilani, Fathurrahman menekankan bahwa predikat khaira ummah (umat terbaik) bukanlah sesuatu yang melekat begitu saja, melainkan membutuhkan pembuktian nyata dalam panggung sejarah.

“Umat itu dibentuk. Umat itu tidak diterima begitu saja,” tegasnya.

Menurutnya, pembentukan umat memerlukan proses pendidikan, penataan, pengorganisasian, dan pengarahan yang matang, sebagaimana sejarah panjang berdirinya Muhammadiyah yang dirintis melalui perjuangan berat. Dalam posisi ini, Muhammadiyah berperan sebagai saksi peradaban, sehingga para kadernya wajib menjadi teladan, baik dalam menyeru pada kebaikan (amar makruf) maupun mencegah kemungkaran (nahi munkar).

Selain itu, Fathurrahman menyoroti pentingnya keutuhan integritas sumber daya manusia—yakni keselarasan antara perkataan dan perbuatan. Ia kemudian mengenang almarhum Buya Syafii Maarif sebagai cerminan sosok berintegritas tinggi yang tidak terbuai oleh kesenangan materi.

Lebih lanjut, Fathurrahman mengajak kader IMM meneladani sistem perkaderan Darul Arqam pada masa Rasulullah SAW, yang terbukti sukses melahirkan generasi sahabat berkarakter kuat hingga mampu membangun ekosistem sosial, politik, dan ekonomi di Madinah. Dari pijakan sejarah tersebut, kader masa kini diharapkan mampu merumuskan agenda peradabannya sendiri.

Ia menambahkan bahwa bentuk "jihad peradaban" pada era modern dapat diwujudkan melalui penguatan ketahanan keluarga, penguasaan media digital, serta inovasi teknologi. Meski demikian, di tengah ruang digital yang kian tanpa batas, ia mengingatkan agar hubungan antarsesama manusia tetap dijaga secara langsung.

“WA tidak akan menggantikan relasi kemanusiaan,” terangnya.

Menutup pemaparannya, Fathurrahman mengingatkan para peserta bahwa kader IMM merupakan calon penerus estafet kepemimpinan Persyarikatan. Ia berpesan agar mereka tetap lurus dan istikamah dalam mengemban misi dakwah.

“Jangan takut menjadi manusia transformatif, rezekinya mulia dan dijamin oleh Allah. Risalah ini perlu ada yang meneruskan,” pungkas Fathurrahman.
Bagikan berita ini: