Kabar Persyarikatan

Terima Kunjungan Menteri Lingkungan Hidup, Haedar Nashir Dorong Paradigma Membangun Tanpa Merusak

Redaksi Baturmu
30 Oktober 20264 Menit
Terima Kunjungan Menteri Lingkungan Hidup, Haedar Nashir Dorong Paradigma Membangun Tanpa Merusak

BATURMU.COM, YOGYAKARTA — Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menerima kunjungan silaturahmi dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) Republik Indonesia di Aula Kantor PP Muhammadiyah Yogyakarta pada Jumat (30/10).

Dalam pertemuan tersebut, Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir menyampaikan sejumlah gagasan strategis mengenai kelestarian lingkungan. Isu yang dibahas meliputi redefinisi pengelolaan sampah, gerakan penyelamatan hutan, hingga pentingnya komitmen nasional terhadap paradigma pembangunan yang berwawasan lingkungan.

Haedar menegaskan bahwa program lingkungan hidup yang dijalankan Muhammadiyah tidak hanya berfokus pada pemeliharaan fisik, tetapi juga menyentuh aspek edukasi praktis dan nilai-nilai spiritual. Ia pun menyambut baik gagasan "Taubat Ekologis"—sebuah pendekatan ekoteologi yang digagas oleh Menteri Lingkungan Hidup RI, Moh. Jumhur Hidayat.

“Jadi ini bukan hanya pemeliharaan tapi juga advokasi. Bahkan ada program tobat ekologis yang saya yakin itu ada aspek teologisnya,” ujar Haedar.

Selain itu, Haedar memaparkan gerakan Wakaf Hutan yang kian masif dikembangkan di lingkungan Muhammadiyah. Melalui gerakan ini, Muhammadiyah memanfaatkan aset-aset lahan kosong atau tanah wakaf milik persyarikatan untuk ditanami kembali sebagai upaya konservasi alam.

Mengenai penegakan hukum di bidang lingkungan, Haedar meminta pemerintah bertindak bijak dengan membedakan antara tindakan kriminalitas lingkungan dan kebiasaan masyarakat lokal akibat keterbatasan sarana. Ia juga menggarisbawahi pentingnya peran kontrol publik untuk mengawasi kepatuhan korporasi terhadap hukum yang berlaku.

“Kalau memang itu tindakan-tindakan kriminal dilakukan oleh pihak tertentu dengan tujuan-tujuan tertentu, itu seharusnya urusan pidana yang harus teratasi. Tapi jika menyangkut habit penduduk setempat yang biasa bakar lahan karena keterbatasan teknologi, ya ini menjadi problem yang harus bisa kita pecahkan bersama,” jelasnya.

Secara mendasar, Haedar menekankan perlunya seluruh elemen bangsa memegang teguh paradigma "Membangun Tanpa Merusak". Menurutnya, prinsip ini sangat sejalan dengan ajaran Ihsan dalam Islam. Ia mengingatkan agar masyarakat tidak terjebak dalam romantisme lingkungan yang ekstrem dengan melarang total pemanfaatan alam, melainkan diajak untuk mengelola alam secara bertanggung jawab demi kesejahteraan bersama.

Dengan merujuk pada buku Why Nations Fail karya James Robinson, Haedar mengingatkan bahwa Indonesia tidak boleh sekadar mengadopsi mentah-mentah model pembangunan asing. Negara harus percaya diri dan bertumpu pada kekuatan internal masyarakat serta institusi lokal.

“Dan jangan jatuh dari mulut harimau ke mulut buaya. Intinya nafsu-nafsu yang merusak kita tidak menghendaki itu,” tegas Haedar.

Pertemuan tersebut turut dihadiri oleh Ketua PP Muhammadiyah Agung Danarto dan Agus Taufiqurrahman, Sekretaris PP Muhammadiyah Muhammad Sayuti, Bendahara Umum PP Pemuda Muhammadiyah Machendra Setyo Atmaja, serta jajaran pejabat Kementerian Lingkungan Hidup RI.

Bagikan berita ini: