Sinergi dan Bebas Ego Sektoral Kunci Sukses Tanwir Muhammadiyah 2026 di Palu

BATURMU.COM, PALU — Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, dr. Agus Taufiqurrahman, menekankan krusialnya pembentukan tim yang solid, penguatan sinergi, serta pengikisan ego sektoral demi menyukseskan gelaran Tanwir dan Milad ke-114 Muhammadiyah yang akan berlangsung di Kota Palu, Sulawesi Tengah.
Pesan tersebut ia sampaikan saat memberikan pembekalan materi bertajuk “Membangun Tim yang Tangguh: Sinergi dan Kolaborasi untuk Kesuksesan Tanwir Muhammadiyah 2026”. Pembekalan ini menjadi bagian dari Workshop Liaison Officer (LO) Tanwir dan Milad ke-114 Muhammadiyah yang digelar di Gedung Banua Kaili H. Rusdy Toana, Universitas Muhammadiyah Palu, Senin (19/10).
Dalam pengarahannya, Agus menguraikan bahwa kepanitiaan acara ini bukan sekadar mengurus hal-hal teknis di lapangan, melainkan mengemban amanat besar Persyarikatan. Menurutnya, Tanwir merupakan forum pengambilan keputusan yang sangat strategis, sarana konsolidasi gerakan, sekaligus ajang mempererat tali silaturahmi dan ukhuwah.
Oleh karena itu, ia menegaskan keberhasilan Tanwir merupakan kehormatan dan tanggung jawab kolektif seluruh lini kepanitiaan, bukan hanya beban individu atau divisi tertentu.
Agus menggarisbawahi pentingnya mentransformasi pola kerja individualistis menjadi kerja tim yang terpadu dan saling terhubung.
“Setiap panitia diharapkan mampu berkontribusi, saling melengkapi, berinisiatif, serta mengutamakan keberhasilan bersama di atas kepentingan pribadi maupun kelompok,” tegas Agus.
Ia turut mengingatkan bahaya ego sektoral yang kerap menjadi penghambat koordinasi antarbagian. Sikap lepas tangan atau merasa suatu masalah bukan tugas divisinya harus diubah menjadi budaya saling menopang, terbuka dalam berkomunikasi, dan bersama-sama mencari jalan keluar.
Untuk mewujudkan tim yang tangguh, Agus memaparkan lima pilar utama yang wajib dipegang, yakni kesamaan visi (shared vision), saling percaya (trust), komitmen (commitment), komunikasi (communication), dan kolaborasi (collaboration). Kelima fondasi ini dinilai mampu menyatukan seluruh unsur panitia agar bekerja lebih terarah, efektif, serta saling menguatkan.
Di samping kekompakan, aspek amanah juga harus dijadikan sebagai pilar dasar dalam menjalankan tugas. Para panitia dituntut untuk disiplin waktu, patuh pada keputusan bersama, menjaga standar mutu pelayanan, dan menuntaskan setiap kendala secara transparan serta bertanggung jawab.
Agus juga menyoroti aspek kepemimpinan yang perlu dimiliki oleh setiap individu tanpa harus memegang jabatan struktural. Jiwa kepemimpinan yang melayani dapat diwujudkan melalui kepekaan berinisiatif, sikap keteladanan, kesediaan mendengarkan, dan kepedulian untuk membantu sesama anggota tim.
Menghadapi berbagai dinamika dan tantangan acara, panitia diminta untuk selalu berfokus pada solusi melalui alur identifikasi masalah, komunikasi, perumusan langkah, eksekusi, hingga evaluasi. Pola kerja responsif dan berorientasi pada penyelesaian masalah ini diharapkan dapat mencegah budaya saling menyalahkan.
