Belajar Prasangka Baik Saat Tertimpa Musibah Lewat Kisah Ummu Salamah

BATURMU.COM, YOGYAKARTA — Musibah kerap dipandang sebagai akhir dari harapan. Namun, dalam pandangan Islam, ujian yang terasa menyakitkan belum tentu membawa keburukan. Di balik setiap duka yang tidak diinginkan, Allah Swt. telah menyiapkan kebaikan yang belum mampu dijangkau oleh pikiran manusia.
Pesan tersebut disampaikan oleh Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Niki Alma Febriana Fauzi, dalam khutbah Jumat di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Yogyakarta.
Dalam khutbahnya, Niki mengajak para jamaah merefleksikan kisah perjalanan rumah tangga pasangan sahabat Nabi, Abu Salamah dan Ummu Salamah. Kisah ini menjadi teladan penting mengenai ketabahan serta sikap senantiasa berprasangka baik (husnuzan) kepada Allah Swt. di tengah kehilangan.
Pasangan Abu Salamah dan Ummu Salamah dikenal sangat harmonis dan taat beribadah. Namun, cobaan berat melanda ketika Abu Salamah gugur sebagai syahid dalam Perang Uhud. Kepergian sang suami sempat menyisakan duka yang amat mendalam bagi Ummu Salamah.
Melihat kondisi tersebut, Rasulullah Saw. mengajarkan doa kepada umatnya yang sedang ditimpa cobaan agar memohon pahala sekaligus pengharapan ganti yang lebih baik:
"Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali. Ya Allah, berilah aku pahala dalam musibahku ini dan gantilah untukku dengan sesuatu yang lebih baik darinya."
Niki menjelaskan, doa tersebut menekankan kesadaran mendasar bahwa seluruh isi bumi dan jiwa manusia adalah milik Allah Swt. Kesadaran ini perlu diiringi dengan harapan agar kesabaran dalam menghadapi musibah dibalas dengan kebaikan yang jauh lebih besar.
Meskipun sempat bertanya-tanya dalam hati apakah ada sosok pria yang lebih baik daripada almarhum suaminya, Ummu Salamah tetap mengamalkan ajaran Rasulullah Saw. Jawaban atas doanya pun terwujud setelah masa idahnya usai, ketika Rasulullah Saw. sendiri datang melamarnya untuk dijadikan istri.
"Bisa jadi apa yang tidak kita sukai sesungguhnya menyimpan banyak hikmah yang jauh lebih baik. Sebaliknya, bisa jadi sesuatu yang kita sukai justru mendatangkan banyak mudarat bagi kita," tutur Niki.
Lebih lanjut, Niki memaparkan bahwa penderitaan sering kali membuat seseorang merasa kehilangan seluruh masa depannya. Padahal, Allah Swt. bisa saja sedang menuntunnya menuju kedudukan yang lebih mulia. Pelajaran ini selaras dengan firman Allah Swt. dalam Surah Al-Baqarah ayat 216:
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui." (QS. al-Baqarah [2]: 216).
Ia menegaskan bahwa manusia sebaiknya tidak cepat mengambil kesimpulan atas peristiwa hidup yang dialami hanya berdasarkan rasa senang atau sakit sesaat. Keterbatasan ilmu manusia tidak sebanding dengan mahaluasnya pengetahuan Allah Swt.
Selain itu, Niki mengingatkan bahwa dinamika kehidupan manusia—baik berupa kelapangan maupun kesempitan—merupakan sarana untuk menguji kualitas amal manusia, sebagaimana termaktub dalam Surah Al-Mulk ayat 2.
Seseorang yang mampu bersabar saat ditimpa penderitaan dapat menjadikan peristiwa itu sebagai jalan mendekatkan diri kepada Allah Swt. Sebaliknya, kekayaan atau jabatan bisa menjadi pemicu kehancuran apabila mendatangkan kesombongan dan menjauhkan diri dari agama.
Mengutip hadis riwayat Muslim, Niki menekankan betapa mengagumkannya kehidupan seorang mukmin yang mampu bersyukur saat mendapat kelapangan dan bersabar saat tertimpa kesulitan.
Oleh karena itu, kisah Ummu Salamah hendaknya dijadikan pedoman hidup. Meskipun manusia tidak bisa memilih bentuk ujian yang datang, setiap individu memiliki kendali penuh untuk menentukan sikap dan kualitas amalnya dalam merespons ujian tersebut.
