Kabar Persyarikatan

Refleksi Pengalaman Petugas Haji 1990-an, Haedar Nashir Tegaskan Pengabdian Bukan Tempat Mengejar Jabatan

Redaksi Baturmu
14 Oktober 20264 Menit
Refleksi Pengalaman Petugas Haji 1990-an, Haedar Nashir Tegaskan Pengabdian Bukan Tempat Mengejar Jabatan

BATURMU.COM, YOGYAKARTA — Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, membagikan kisah perjalanannya saat pertama kali dipercaya menjadi petugas haji pada era 1990-an. Pengalaman berharga tersebut ia sampaikan sebagai bahan refleksi penting mengenai arti komitmen, ketulusan, dan profesionalitas dalam mengemban amanah.

Kisah itu diungkapkan Haedar saat memberikan kuliah tujuh menit (kultum) usai salat Dzuhur di Masjid Kantor PP Muhammadiyah, Yogyakarta, Selasa (13/10). Di hadapan para staf, ia mengenang momen ketika dipercaya memegang tanggung jawab besar, meskipun kala itu dirinya belum pernah menunaikan ibadah haji.

Kala itu, Haedar langsung mendapat mandat sebagai Ketua Kelompok Terbang (Kloter) yang memimpin sekitar 390 jemaah asal Bandung. Tugas ini tidak mudah, terlebih mayoritas ketua rombongan lain umumnya sudah memiliki pengalaman berhaji.

Meski menghadapi keterbatasan pengalaman, Haedar tidak menjadikan hal tersebut sebagai hambatan. Ia mengoptimalkan kemampuan manajemen dan prinsip saling membantu untuk memastikan pelayanan kepada jemaah tetap berjalan lancar.

“Biasanya kalau tugas kloter itu kan sudah haji, sementara saya belum haji. Tapi, kan, kita saling menolong dan kita punya kemampuan memanajemen,” kenang Haedar.

Haedar mengungkapkan bahwa tantangan petugas haji pada masa itu cukup berat, mengingat fasilitas dan sarana dukungan belum sekompleks sekarang. Petugas dituntut selalu siaga menghadapi situasi darurat, mulai dari mendampingi jemaah sakit hingga mencari jemaah yang terpisah dari rombongan.

“Memang kita berat dari beberapa hal itu. Nanti kalau ada yang sakit, dokter yang menangani. Dokter-dokter kita harus membawa jemaah ke rumah sakit. Lalu, jika ada yang hilang, itu kan kita harus mencari,” ungkapnya.

Bagi Haedar, beratnya dinamika di lapangan justru menjadi ruang pembelajaran yang sangat berharga untuk meningkatkan kapasitas diri sekaligus mempererat kebersamaan dengan para jemaah.

“Memang begitu berat menjadi ketua kloter. Tapi, itulah pelajaran yang berharga. Alhamdulillah, lancar juga dengan segala kegiatan. Kita juga menjadi kenal dengan para rombongan,” tuturnya.

Berangkat dari pengalaman tersebut, Haedar mengingatkan kepada seluruh staf, kader, dan warga Persyarikatan Muhammadiyah untuk senantiasa menjaga keikhlasan serta profesionalitas. Ia menegaskan agar jabatan tidak dijadikan sebagai tujuan utama dalam berorganisasi maupun bekerja.

Menurutnya, nilai utama dari sebuah pengabdian terletak pada kesediaan menjalankan tugas dengan penuh kesungguhan dan integritas, bukan pada ambisi meraih kedudukan atau memanfaatkan posisi demi kepentingan pribadi.

“Jadi, inilah yang disebut dengan sebuah panggilan. Jangan punya niat memanfaatkan apa pun ketika bertugas dan lain sebagainya. Kalau sudah bertugas, yang terpenting adalah menjalankannya dengan baik dan penuh kesungguhan,” tegas Haedar.

Pesan ini menggarisbawahi bahwa ukuran profesionalitas tidak hanya terletak pada ketuntasan pekerjaan, tetapi juga pada niat tulus dan komitmen untuk memberikan kemanfaatan yang lebih luas bagi masyarakat dan bangsa.

Bagikan berita ini: