Kabar Persyarikatan

Khutbah Jumat: Pentingnya Menjaga Kehormatan dan Menutupi Aib Sesama

Redaksi Baturmu
14 Oktober 20263 Menit
Khutbah Jumat: Pentingnya Menjaga Kehormatan dan Menutupi Aib Sesama

BATURMU.COM, YOGYAKARTA — Menjaga kehormatan dan menutupi aib sesama merupakan bagian penting dari wujud ketakwaan seorang muslim. Nilai takwa tidak hanya diukur melalui ibadah ritual seperti salat dan puasa, melainkan juga tercermin dari cara memperlakukan manusia, mengendalikan lisan, serta memelihara nama baik saudara seiman.

Setiap manusia pada dasarnya memiliki kekurangan dan tidak pernah lepas dari kesalahan. Ada kekhilafan yang tampak oleh publik, namun banyak pula dosa yang masih dirahasiakan oleh Allah SWT. Sayangnya, di tengah derasnya arus informasi dan media sosial saat ini, kekurangan orang lain sering kali dengan mudah dijadikan bahan perbincangan, bahkan disebarkan hingga dikonsumsi khalayak luas.

Padahal, Islam melarang keras tindakan mencari-cari kesalahan serta menggunjing sesama. Larangan ini ditegaskan oleh Allah SWT dalam Al-Qur'an Surah Al-Hujurat ayat 12:

“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak prasangka! Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah! Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat: 12)

Kebiasaan membongkar cela orang lain umumnya bermula dari rasa ingin tahu yang berlebihan terhadap urusan pribadi orang lain. Dari dorongan tersebut, timbul prasangka buruk, kebencian, gibah, hingga fitnah. Oleh sebab itu, upaya memelihara kehormatan sesama harus diawali dengan menjaga hati dan mengendalikan diri dari mencampuri hal-hal yang tidak perlu.

Di samping itu, menutupi kesalahan orang lain memiliki keutamaan yang sangat besar. Sebagaimana diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (No. 2945), Rasulullah SAW bersabda bahwa barang siapa yang menutupi aib seorang muslim, maka Allah SWT akan menutupi aibnya baik di dunia maupun di akhirat.

Kendati demikian, menutupi aib bukan berarti membenarkan atau mengacuhkan perbuatan maksiat. Jika mendapati saudara yang berbuat salah, hendaknya nasihat disampaikan secara personal, santun, dan tanpa niat mempermalukannya di depan umum. Tujuan utama dari nasihat adalah mendorong perbaikan diri, bukan menjatuhkan reputasi seseorang.

Prinsip ini juga sangat penting diterapkan dalam kehidupan keluarga, lingkungan kerja, maupun interaksi di media sosial. Setiap muslim dituntut untuk bijaksana dalam mengelola informasi dan tidak mudah membagikan hal-hal yang berpotensi merusak kehormatan sesama.

Bagikan berita ini: