Kabar Persyarikatan

Haedar Nashir Tekankan Pentingnya Kepemimpinan Transformasional Berkemajuan di Muhammadiyah

Redaksi Baturmu
14 Oktober 20264 Menit
Haedar Nashir Tekankan Pentingnya Kepemimpinan Transformasional Berkemajuan di Muhammadiyah

BATURMU.COM, YOGYAKARTA — Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, menegaskan pentingnya menerapkan konsep kepemimpinan transformasional berkemajuan di lingkungan Persyarikatan. Gaya kepemimpinan ini dinilai mampu menggerakkan ekosistem menuju perubahan positif sekaligus menjaga pijakan nilai-nilai keagamaan.

Dalam pemaparannya di Universitas 'Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta pada Rabu (14/10), Haedar menjelaskan bahwa teori kepemimpinan terus berkembang dari era birokrasi, teknokrasi, hingga karismatik, sebelum akhirnya muncul teori kepemimpinan transformasional. Di Muhammadiyah, konsep ini diberi keunggulan dan sentuhan khusus berupa landasan nilai keagamaan.

"Berbeda tentu dengan transformasional yang lain, ada value di situ, ada qimah di situ, ada nilai di situ, yakni nilai agama tentang benar-salah, baik-buruk, pantas-tidak pantas, dan memandang kehidupan ini sebagai sebuah keutuhan di dunia wal akhirat," kata Haedar.

Haedar menyebut kepemimpinan transformasional berkemajuan ini juga sebagai Religious Transformational Leadership. Salah satu peran krusial dari model kepemimpinan ini adalah saat berhadapan dengan pesatnya perkembangan teknologi informasi, termasuk kehadiran kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

Menurutnya, kepemimpinan transformasional berkemajuan tidak menolak kemajuan AI, melainkan tetap memanfaatkannya dengan terus menjaga harkat dan martabat kemanusiaan agar manusia tidak kehilangan kemandirian.

"Kita harus tetap punya kesadaran bahwa manusia itu punya potensi lebih dari apa yang kita bentuk, kita bangun, kita ciptakan sendiri. Jangan sampai kita itu menjadi manusia yang kehilangan kemandirian karena terlalu bergantung pada teknologi," tegasnya.

Oleh karena itu, Haedar mendorong lahirnya kepemimpinan hibrida (*hybrid leadership*) yang memadukan antara *human leadership* dan *AI leadership*. Pendekatan ini menjadi solusi cerdas di tengah tuntutan pengambilan keputusan yang cepat, tanpa membuat manusia menjadi 'tawanan' teknologi.

Lebih lanjut, ia menerangkan bahwa kepemimpinan berkemajuan menuntut keseimbangan. Di satu sisi berorientasi pada hal-hal duniawi seperti teknologi, birokrasi, dan kemanusiaan, namun di sisi lain tetap memegang teguh penyelesaian masalah melalui pendekatan spiritual sebagaimana diputuskan dalam Manhaj Tarjih.

Haedar juga mengingatkan agar para kader tidak menganggap remeh tanggung jawab dalam memimpin organisasi keagamaan sebesar Muhammadiyah.

"Maka jangan merasa mudah untuk bisa memimpin, merasa sudah punya ilmu, bisa meng-override kan. Atau sudah merasa jadi pejabat, sudah merasa bisa memimpin Muhammadiyah," ungkap Haedar.

Ia menekankan bahwa memimpin Persyarikatan membutuhkan perjalanan dan pengalaman panjang yang mampu membentuk kearifan. Seorang pemimpin berkemajuan tidak hanya mengandalkan struktur ilmu, tetapi juga hikmah dan kebijaksanaan.

Sebagai penutup, Haedar mengingatkan dua prinsip penting yang harus dimiliki pemimpin Muhammadiyah dan 'Aisyiyah, yaitu *wiqoyah* (sikap waspada serta berhati-hati dalam bertindak dan berucap) dan *muhasabah* (sikap reflektif untuk terus mengkaji dan belajar).

"Dengan sikap wiqoyah dan muhasabah itu kita akan membawa 'Aisyiyah, membawa Muhammadiyah, umat dan bangsa itu menjadi lebih baik, dan akhirnya memberikan selamat bagi kepentingan semesta," pungkasnya.
Bagikan berita ini: