Kabar Persyarikatan

Pentingnya Merayakan Setiap Pencapaian dan Prestasi dengan Rasa Syukur

Redaksi Baturmu
7 Oktober 20263 Menit
Pentingnya Merayakan Setiap Pencapaian dan Prestasi dengan Rasa Syukur

BATURMU.COM, YOGYAKARTA — Kegembiraan atas raihan prestasi, baik dalam bidang olahraga, pendidikan, maupun karir, merupakan hal yang wajar dan manusiawi. Namun, dalam pandangan Islam, setiap keberhasilan hendaknya disikapi dengan rasa syukur yang mendalam agar tidak tergelincir pada kesombongan.

Antusiasme masyarakat saat menyambut kemenangan tim nasional sepak bola atau keberhasilan pribadi menjadi bukti betapa bahagianya manusia ketika mencapai sebuah tujuan. Islam tidak melarang pemeluknya untuk mengekspresikan kegembiraan tersebut. Justru, hal yang perlu diperhatikan adalah bagaimana seorang Muslim mengelola rasa bahagia itu secara bijak.

Rasa syukur bukan sebatas ucapan lisan saat menerima keberhasilan, melainkan kesadaran penuh bahwa seluruh kemampuan dan kesempatan yang dimiliki merupakan karunia dari Allah SwT. Kesadaran inilah yang mendorong seseorang untuk menggunakan nikmat tersebut sesuai dengan kehendak-Nya.

"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras'." (QS. Ibrahim: 7)

Sebelum seseorang mampu berikhtiar dan meraih sukses, Allah telah membekali manusia dengan berbagai potensi dasar. Dalam Surah An-Nahl ayat 78 ditegaskan bahwa manusia dilahirkan dalam keadaan tidak mengetahui apa pun, lalu Allah memberikan pendengaran, penglihatan, dan hati nurani agar manusia bersyukur.

Oleh karena itu, setiap prestasi yang diraih—baik oleh pelajar, atlet, maupun pekerja—tidak pernah berdiri sendiri. Di balik keberhasilan tersebut ada keterlibatan orang lain seperti orang tua, guru, pelatih, serta rekan kerja, yang seluruh ikhtiarnya berada di bawah pertolongan Allah SwT.

Terdapat perbedaan mendasar antara menghargai proses ikhtiar dengan membanggakan diri secara berlebihan. Menghargai prestasi berarti mengakui kerja keras seraya tetap bersyukur, sedangkan membanggakan diri secara berlebihan berisiko membuat manusia lupa akan asal-usul kemampuannya.

"Maka, janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia lebih mengetahui siapa yang bertakwA." (QS. An-Najm: 32)

Melalui ajaran ini, umat Islam diajak untuk menempatkan pencapaian secara proporsional. Merayakan keberhasilan dan mengapresiasi kerja keras tentu diperbolehkan, namun puncak dari rasa bahagia tersebut hendaknya selalu bermuara pada pengakuan tulus: Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

Bagikan berita ini: