Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah Ingatkan Pentingnya Adab dalam Menyikapi Perbedaan Pandangan Keagamaan

BATURMU.COM, BANTUL — Perbedaan pandangan, baik dalam penafsiran teks maupun ijtihad keagamaan, hendaknya senantiasa disikapi dengan adab dan tidak boleh dijadikan alasan untuk saling menyalahkan atau bermusuhan.
Himbauan tersebut disampaikan oleh Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Fathurrahman Kamal, dalam kegiatannya di Masjid Al Mushanif, Institut Tabligh Muhammadiyah (ITM), Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, pada Jumat (2/10).
Untuk menggambarkan cara menyikapi perbedaan tafsir terhadap perintah Allah SWT dan Rasulullah SAW, Fathurrahman mengisahkan peristiwa perjalanan para sahabat Nabi menuju Benteng Bani Quraizhah. Sebelum berangkat, Rasulullah berpesan agar para sahabat tidak menunaikan salat Asar sebelum tiba di benteng tersebut. Namun, di tengah perjalanan, waktu Asar hampir habis.
Kondisi itu membuat para sahabat terbagi menjadi dua kelompok. Sebagian memilih memegang teguh teks instruksi Rasulullah dengan menunda salat hingga sampai tujuan, sedangkan sebagian lainnya memilih segera melaksanakan salat Asar karena khawatir waktunya terlewat.
Fathurrahman menjelaskan bahwa Rasulullah tidak menyalahkan salah satu pihak atas perbedaan tindakan tersebut. Oleh karena itu, perbedaan dalam urusan keagamaan seharusnya tidak memicu perselisihan.
“Perbedaan membutuhkan keluasan hati, terutama ketika masing-masing pihak memiliki dasar argumentasi yang dapat dipertanggungjawabkan,” ungkapnya.
Ia menilai kisah para sahabat sangat relevan dengan kehidupan dunia Islam saat ini yang sangat majemuk. Menurutnya, perbedaan pandangan tidak boleh dijadikan sebagai standar atau ukuran tingkat keislaman seseorang.
Lebih lanjut, Fathurrahman mencontohkan adanya perbedaan produk fatwa antara Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah dengan lembaga fatwa lainnya. Perbedaan tersebut tidak sepatutnya dijadikan alat legitimasi untuk menyalahkan kelompok lain.
“Jangan pernah menjadikan fatwa ini untuk mengatakan bahwa Islamnya orang lain tidak sempurna hanya karena tidak mengikuti fatwa yang diikuti salah satu kelompok di antara kita,” pesannya.
