Kabar Persyarikatan

Busyro Muqoddas: Perguruan Tinggi Harus Melahirkan Pemimpin Berintegritas dan Berakhlak

Redaksi Baturmu
7 Oktober 20264 Menit
Busyro Muqoddas: Perguruan Tinggi Harus Melahirkan Pemimpin Berintegritas dan Berakhlak

BATURMU.COM, YOGYAKARTA — Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Busyro Muqoddas, menyoroti korelasi antara dunia pendidikan tinggi, integritas, dan maraknya kasus korupsi di Indonesia. Ia menilai tingkat pendidikan yang tinggi ternyata tidak serta-merta menjamin seseorang memiliki kejujuran maupun kepedulian sosial yang kuat.

Pandangan tersebut disampaikan Busyro dalam forum Gerakan Subuh Mengaji pada Senin (05/10). Untuk memperkuat argumentasinya, mantan pimpinan KPK ini merujuk pada data Komisi Pemberantasan Korupsi hingga tahun 2015, yang mencatat bahwa sebanyak 86 persen pelaku tindak pidana korupsi merupakan lulusan perguruan tinggi.

“Pertanyaannya, apakah lulusan perguruan tinggi itu patut kita syukuri? Patut. Tapi kalau tidak diimbangi dengan kebijakan pendidikan yang berbasis pada keluarga, pendidikan sejak dini,” ujar Busyro.

Busyro menilai fenomena ini mengindikasikan adanya jarak yang memisahkan antara sistem pendidikan formal dengan proses pembentukan karakter. Seseorang bisa saja merengkuh gelar sarjana, magister, hingga doktor, namun tetap terjerumus dalam praktik korupsi akibat mengabaikan batasan halal dan haram.

Ia juga menyayangkan munculnya budaya permisif di tengah masyarakat terkait cara mencari nafkah, bahkan hingga menjadi selorohan bahwa mencari penghasilan yang haram saja sulit, apalagi yang halal. Menurutnya, mindset semacam ini perlu diluruskan melalui edukasi moral yang mantap.

Oleh karena itu, Busyro menekankan bahwa kriteria keberhasilan sebuah perguruan tinggi—baik negeri, swasta, maupun milik Muhammadiyah—tidak boleh hanya diukur dari banyaknya jumlah lulusan. Perguruan tinggi harus mampu menjadi ruang untuk mencetak calon pemimpin yang berbasis pada akhlak dan ilmu pengetahuan.

“Ukuran sukses perguruan tinggi negeri maupun swasta, apalagi Muhammadiyah, itu bukan kelulusan saja. Enggak cukup, sama sekali enggak cukup itu. Tapi harus didasarkan kepada terbentuk enggak karakter kepemimpinan yang jujur, yang sederhana, yang tidak pernah bohong kepada keluarga, tetangganya,” tegasnya.

Di samping sektor pendidikan, Busyro menggarisbawahi pentingnya ketegasan dan kejujuran di tubuh aparat penegak hukum, seperti Kepolisian, Kejaksaan, dan KPK. Integritas para penegak hukum dinilai sangat krusial dalam membangun kembali kepercayaan publik.

“Jujur itu hebat di mata rakyat, terhormat di mata Allah,” tambah Busyro.

Lebih lanjut, Busyro menekankan bahwa fondasi pembentukan karakter bermula dari lingkungan keluarga. Orang tua merupakan pendidik utama dan pertama bagi anak-anak mereka, sehingga peran keteladanan di rumah tidak bisa digantikan sepenuhnya oleh sekolah maupun kampus.

Ia mengajak setiap keluarga untuk membiasakan perilaku benar yang berlandaskan ajaran agama dan ilmu pengetahuan. Ia mengingatkan agar masyarakat tidak membenarkan kebiasaan atau tradisi lama apabila hal tersebut bertentangan dengan nilai keagamaan dan kebenaran ilmiah.

Selain pendidikan keluarga, interaksi sosial di tengah masyarakat majemuk juga sangat penting bagi perkembangan generasi muda. Busyro mendorong anak-anak dan remaja untuk aktif berorganisasi serta terbuka dalam bergaul dengan berbagai kelompok masyarakat tanpa melupakan penjagaan terhadap benteng keimanan.

Memungkasi penyampaiannya, Busyro menegaskan bahwa cita-cita tertinggi dari seluruh proses pendidikan adalah mencetak manusia yang memberi kemanfaatan luas bagi sesama, sesuai dengan prinsip khairunas anfauhum linnas—sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.

Bagikan berita ini: