Kabar Persyarikatan

PCIM USA Gelar Pengajian Diaspora, Tanamkan Ketahanan Diri dan Kontribusi Positif Muslim di Amerika

Redaksi Baturmu
12 Oktober 20265 Menit
PCIM USA Gelar Pengajian Diaspora, Tanamkan Ketahanan Diri dan Kontribusi Positif Muslim di Amerika

BATURMU.COM, CHICAGO — Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Amerika Serikat (USA) menggelar pengajian yang membahas ketahanan diri (resiliensi) serta pengembangan potensi diaspora Muslim Indonesia di tengah masyarakat multikultural. Kegiatan tersebut berlangsung di Chicago pada Sabtu (10/10).

Acara ini menghadirkan akademisi Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) sekaligus Sekretaris Lembaga Hubungan dan Kerja Sama Internasional (LHKI) PP Muhammadiyah, Yayah Khisbiyah, sebagai pembicara utama. Yayah, yang juga menjabat Ketua Muhammadiyah Anti-Intolerance and Discrimination (MuAID) PP Muhammadiyah, memaparkan berbagai tantangan psikologis dan sosial yang dihadapi para perantau Muslim di Negeri Paman Sam.

Menurut Yayah, tantangan utama diaspora Muslim di Amerika Serikat bukan sekadar menjaga identitas asal, melainkan bagaimana terus bertumbuh, membangun keluarga yang sehat, dan menjalani kehidupan yang berdampak. Perpindahan dari Indonesia ke lingkungan baru menuntut adaptasi terhadap budaya, bahasa, serta pola hidup individualistis tanpa harus mengorbankan nilai-nilai inti yang dianut.

Melalui pendekatan psikologi lintas budaya, Yayah menjelaskan bahwa proses beradaptasi tidak berarti harus kehilangan jati diri. Pendekatan integrasi atau bikulturalisme dapat menjadi sarana untuk menyelaraskan identitas keindonesiaan, keamerikaan, dan keislaman secara harmonis.

“Melalui konsep integrated bicultural identity, diaspora diharapkan mampu memadukan identitas-identitas tersebut secara selaras. Dengan demikian, perbedaan budaya tidak dipandang sebagai ancaman, tetapi sebagai ruang untuk saling belajar dan memperkaya pengalaman hidup,” jelas Yayah.

Selain penyesuaian budaya, forum tersebut mendalami pentingnya resiliensi sebagai kemampuan bangkit dari berbagai tekanan hidup, baik yang bersumber dari internal, hubungan sosial, maupun tuntutan lingkungan baru. Yayah menekankan bahwa ketahanan diri tidak ditanggung sendirian oleh individu, melainkan dipupuk melalui dukungan keluarga, komunitas, dan hubungan sosial yang sehat.

Sebagai penguat spiritual, ia mengingatkan pesan Surah Al-Insyirah ayat 5–6 yang menegaskan keberadaan kemudahan di balik setiap kesulitan. Pembahasan juga diarahkan dari sekadar bertahan hidup (surviving) menuju kehidupan yang berkembang dan bermakna (flourishing), mengacu pada kerangka psikologi positif PERMA (Positive Emotion, Engagement, Relationships, Meaning, dan Accomplishment) yang berakar pada iman dan takwa.

Dalam ajaran Islam, kesejahteraan hidup tidak hanya diukur dari kebahagiaan pribadi, tetapi juga dari kedekatan kepada Allah dan kebermanfaatan bagi sesama. Hal ini selaras dengan Surah Al-Hujurat ayat 13 mengenai keberagaman bangsa untuk saling mengenal (ta’aruf). Yayah menggarisbawahi prinsip keterhubungan timbal balik (mutuality) agar toleransi tidak berhenti pada sikap membiarkan, melainkan berkembang menjadi kerja sama dan saling belajar.

Lebih lanjut, resiliensi kolektif dinilai menjadi pilar penting bagi kehidupan perantau. Masjid dan kelompok jemaah tidak sekadar tempat beribadah, tetapi juga menjadi pusat solidaritas dan dukungan sosial-psikologis. Berpedoman pada Surah Al-Ma’idah ayat 2 tentang tolong-menolong dalam kebajikan, komunitas diajak memperkuat ketahanan melalui lima pilar utama: iman, keluarga, komunitas, makna hidup, dan kontribusi nyata.

Yayah mendorong perubahan pola pikir dari defensive identity (identitas yang defensif) menjadi confident and contributing identity (identitas yang percaya diri dan berkontribusi). Generasi muda Muslim diaspora diimbau tidak hanya bertahan memegang identitasnya, tetapi juga aktif membagikan kepedulian sosial, keadilan, dan pelayanan kepada masyarakat luas.

Semangat tersebut sejalan dengan Teologi Al-Ma’un yang menjadi pijakan gerakan Muhammadiyah, di mana kesalehan individu diwujudkan melalui kepedulian sosial yang nyata. Meski menjadi minoritas secara demografis, keberadaan diaspora Muslim diharapkan dapat menjadi sumber manfaat bagi masyarakat lintas latar belakang, berlandaskan tuntunan Surah Al-‘Asr untuk saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.

Bagikan berita ini: