Kabar Persyarikatan

Haedar Nashir Ungkap Tiga Fondasi Utama Kemajuan dan Identitas Muhammadiyah

Redaksi Baturmu
12 Oktober 20264 Menit
Haedar Nashir Ungkap Tiga Fondasi Utama Kemajuan dan Identitas Muhammadiyah

BATURMU.COM, YOGYAKARTA — Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, menekankan pentingnya memahami tatanan dan bangunan dasar Muhammadiyah secara utuh. Kekuatan persyarikatan sejak didirikan pada tahun 1912 dinilai terletak pada fondasinya yang kokoh sebagai gerakan Islam yang solid sekaligus adaptif terhadap perkembangan zaman.

Pernyataan tersebut disampaikan Haedar dalam pembukaan kegiatan Baitul Arqam Dosen Tetap Non-Struktural Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) yang berlangsung di Prime UMY Hotel Convention & Dormitory, Senin (12/10).

Haedar menjelaskan bahwa bangunan dasar Muhammadiyah ditopang oleh tiga pilar utama, yakni pemahaman agama, ideologi, serta sistem organisasi beserta seluruh aspek pendukungnya.

"Dan bagaimana arsitektur dan bangunan Muhammadiyah ke depan kita dapat transformasikan menjadi lebih unggul, menjadi lebih maju atau berkemajuan dan tidak kalah pentingnya sebagai identitas yang berdampak signifikan bagi kemaslahatan umat, bangsa, dan semesta," ujar Haedar.

Mengulas rekam jejak sejarah yang dirintis KH Ahmad Dahlan, Haedar memaparkan bahwa gerakan pembaruan (tajdid) Muhammadiyah tidak sebatas pemurnian ajaran agama. Gerakan ini mencakup pembangunan kehidupan sosial secara luas melalui pengembangan pendidikan, aksi sosial berbasis teologi Al-Ma’un, serta pembentukan alam pikiran yang merdeka dan rasional dalam koridor ajaran Islam.

Dalam kesempatan itu, Haedar merujuk pandangan Prof. Mukti Ali mengenai dua ciri khas yang membedakan pembaruan Muhammadiyah dengan gerakan pembaruan Islam lainnya di dunia.

"Pertama, Muhammadiyah mendirikan pranata-pranata sosial modern atau institusi-institusi modern seperti pendidikan, kesehatan, sosial. Yang kedua adalah lahirnya gerakan perempuan 'Aisyiyah di tahun 1917 sebagai pelopor emansipasi yang berbingkai Islam, bukan emansipasi liberal atau sekuler yang menerabas batasan-batasan," jelasnya.

Dua poin tersebut menunjukkan bahwa pembaruan Muhammadiyah diwujudkan secara nyata melalui institusi yang menjawab kebutuhan masyarakat, bukan sekadar wacana keagamaan. Islam tidak hanya dihayati melalui ibadah ritual, melainkan menjadi landasan utama dalam membangun peradaban.

Guna merespons tantangan zaman tanpa kehilangan arah peradaban, Muhammadiyah terus memadukan tiga pendekatan utama: bayani (pemahaman berbasis teks), burhani (penalaran rasional dan ilmiah), serta irfani (penghayatan spiritual). Ketiganya saling melengkapi agar pemahaman agama tetap membumi, objektif, dan solutif.

Selain itu, Haedar mengingatkan pentingnya memegang prinsip wasathiyah atau moderasi. Warga persyarikatan diimbau untuk tidak bersikap ekstrem dan senantiasa berpedoman pada Sepuluh Sifat Kepribadian Muhammadiyah tahun 1962, yang menegaskan posisi Muhammadiyah sebagai gerakan Islam dan kemasyarakatan, bukan gerakan politik praktis.

Terkait sikap kritis terhadap dinamika sosial, Haedar menegaskan bahwa koreksi harus dilakukan secara adil dan proporsional demi kemaslahatan bersama.

"Adil itu apa? Yaitu menempatkan sesuatu pada tempatnya," ungkap Haedar.

Sebagai penutup, ia mengajak seluruh kader untuk bermuhammadiyah dengan rasa gembira dan lapang dada agar perjuangan dalam organisasi memberikan ketenangan serta kebahagiaan hidup.

"Jangan sampai di dalam Muhammadiyah tapi hati merasa resah. Kan rugi. Jadi bermuhammadiyah harus nikmat, gembira, dan senang," pungkasnya.
Bagikan berita ini: