Kabar Persyarikatan

Muhammadiyah Siapkan Risalah Akidah Islam Berkemajuan untuk Jawab Tantangan Zaman

Redaksi Baturmu
3 November 20264 Menit
Muhammadiyah Siapkan Risalah Akidah Islam Berkemajuan untuk Jawab Tantangan Zaman

BATURMU.COM, YOGYAKARTA — Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah mendorong pengembangan pemahaman akidah Islam agar lebih kontekstual dan mampu menjawab berbagai persoalan era modern. Pemahaman akidah dinilai perlu hadir sebagai landasan moral dan praktis dalam merespons krisis kemanusiaan, lingkungan, ekonomi, hingga dinamika perubahan sosial di era digital.

Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Ustadi Hamsah, menjelaskan bahwa pembahasan akidah selama ini masih didominasi oleh pendekatan teosentris yang berfokus pada ketuhanan. Meski pembahasan tersebut sangat penting, ia menilai perlu adanya perluasan orientasi agar akidah terasa lebih membumi dan relevan dengan realitas kehidupan manusia.

“Akidah harus bertransformasi. Kita berakidah itu berhadapan dengan konteks yang lebih kontemporer. Masalahnya tidak hanya tentang Tuhan, tetapi juga tentang kemanusiaan, alam, krisis, dan macam-macam,” kata Ustadi dalam perbincangan di Lensamu Podcast, Senin (2/11).

Guna merespons kebutuhan tersebut, Muhammadiyah kini tengah menyiapkan draft Risalah Akidah Islam Muhammadiyah. Rumusan konsep akidah berperspektif Islam Berkemajuan ini rencananya akan dibahas secara mendalam pada Musyawarah Nasional (Munas) Tarjih XXXIII di Universitas Muhammadiyah Surabaya pada 5–7 November 2026 mendatang.

Ustadi memaparkan tiga alasan utama di balik penyusunan risalah ini. Pertama, akidah merupakan fondasi utama gerakan persyarikatan. Prinsip tauhid menjadi motor penggerak seluruh aktivitas dakwah dan pembaruan (tajdid) Muhammadiyah. Kedua, adanya kebutuhan mendesak agar akidah lebih responsif terhadap berbagai krisis multidimensi yang dihadapi masyarakat modern. Ketiga, akselerasi perubahan zaman menuntut umat Islam memiliki keimanan yang tangguh sekaligus sikap kritis dalam membaca realitas.

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi, Ustadi juga menggarisbawahi peran akidah sebagai penyaring moral (filter nilai) dalam berinteraksi di ruang digital.

“Akidah sebagai sistem nilai itu salah satu fungsinya memfilter. Bisa memberi pertimbangan, oh ini baik, ini buruk. Oh, ini wajar, ini tidak,” jelasnya.

Untuk mencapai hal tersebut, Muhammadiyah menerapkan pendekatan intersubjektif, yakni memadukan teks keagamaan dan pemikiran ulama terdahulu dengan realitas perkembangan zaman. Pendekatan ini bertujuan menjaga umat agar tidak terjebak pada pemahaman agama yang kaku maupun sikap yang larut dalam arus modernisasi tanpa pijakan iman.

Lebih jauh, Risalah Akidah Islam Muhammadiyah ini dirancang dengan dua prinsip utama: rahamutiyah (etos kasih sayang, empati, dan kepedulian) serta taqaddumiyah (orientasi pada kemajuan dan kesejahteraan). Perpaduan ini diharapkan dapat melahirkan teologi harapan (theology of hope) yang menghadirkan solusi nyata bagi kemaslahatan masyarakat luas.

“Karena kita sedang hidup di dunia, maka akidah kita harus bisa menjawab problem-problem kehidupan dunia. Menyejahterakan, menggembirakan, menyenangkan, dan solutif,” pungkas Ustadi.
Bagikan berita ini: