Kabar Persyarikatan

Muhadjir Effendy Dorong Pelaku Usaha Muhammadiyah Garap Bisnis Haji dan Wisata Sejarah

Redaksi Baturmu
25 Oktober 20264 Menit
Muhadjir Effendy Dorong Pelaku Usaha Muhammadiyah Garap Bisnis Haji dan Wisata Sejarah

BATURMU.COM, YOGYAKARTA — Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Muhadjir Effendy, mengajak para pelaku usaha di lingkungan Muhammadiyah untuk semakin aktif mengoptimalkan sektor bisnis, ekonomi kreatif, dan pariwisata. Langkah ini dinilai strategis dalam memperkokoh kemandirian ekonomi persyarikatan.

Arahan tersebut disampaikan Muhadjir pada forum Silaturahmi Nasional Pelaku Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Muhammadiyah, Minggu (25/10). Ia menegaskan agar para pengusaha Muhammadiyah berani menangkap peluang bisnis serta berfokus pada eksekusi nyata yang membuahkan hasil.

Dalam kesempatan tersebut, Muhadjir kembali mengingatkan pesan penting dari Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, mengenai prinsip kerja para penggerak ekonomi warga persyarikatan.

"Pelaku Ekonomi Muhammadiyah tidak banyak pendapat, tapi justru fokus mencari pendapatan," tutur Muhadjir, merujuk pada pentingnya merealisasikan gagasan menjadi bentuk usaha produktif.

Secara khusus, Muhadjir menyoroti dua peluang strategis yang potensial untuk segera digarap, yakni bisnis layanan haji dan umrah serta penguatan wisata sejarah Muhammadiyah.

Sebagai Penasihat Khusus Presiden Bidang Haji, ia mendorong pelaku usaha Muhammadiyah agar mengambil peran lebih mandiri dan signifikan dalam melayani jemaah Indonesia di Tanah Suci. Salah satu opsi konkret yang diusulkan adalah kolaborasi antarlembaga di internal persyarikatan untuk melakukan investasi fasilitas hunian secara berjangka panjang.

“Bahkan LPEK sebenarnya bisa bekerja sama dengan Lembaga Haji dan Umrah (LHU) untuk menyewa jangka panjang, sekitar 20 tahun, atau membeli tower/hotel berkapasitas besar yang berjarak 300 hingga 500 meter dari Masjidil Haram,” kata Muhadjir.

Selain bisnis layanan ibadah di Tanah Suci, potensi wisata sejarah Muhammadiyah di Yogyakarta turut menjadi perhatian. Sebagai tempat kelahiran Muhammadiyah, Yogyakarta memiliki berbagai situs bersejarah penting yang perlu dilindungi, dirawat, dan dikembangkan secara optimal.

Menurut Muhadjir, situs-situs sejarah tersebut berpotensi besar menjadi destinasi wisata edukasi bagi masyarakat umum maupun wisatawan asing. Keberadaannya juga sangat relevan untuk menunjang studi wisata pelajar dalam memahami mata pelajaran Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) secara lebih hidup dan tidak sekadar teori kelas.

Di akhir penyampaiannya, Muhadjir menggarisbawahi pentingnya penulisan dan pendokumentasian sejarah secara naratif dan bermakna. Langkah ini dinilai krusial untuk membangkitkan rasa percaya diri serta membentuk pandangan positif generasi muda terhadap identitas bangsanya.

“Dulu, kita ini telah dimanipulasi sejarah kita dibikin oleh orang Belanda sehingga terkadang kita ini menjadi bangsa yang rendah diri. Ini karena sejarahnya juga dibikin lain, kita dituliskan sebagai bangsa yang kalahan. Maka di Muhammadiyah tidak boleh seperti itu, tulislah sejarah yang baik dan jadikanlah Muhammadiyah itu hebat,” pungkasi Muhadjir.
Bagikan berita ini: