Kabar Persyarikatan

Ancaman Defisit Moral di Tengah Pesatnya Teknologi: PP Muhammadiyah Tekankan Pentingnya Integritas dan Peran Agama

Redaksi Baturmu
26 Oktober 20264 Menit
Ancaman Defisit Moral di Tengah Pesatnya Teknologi: PP Muhammadiyah Tekankan Pentingnya Integritas dan Peran Agama

BATURMU.COM, JAKARTA — Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Syafiq A. Mughni, menyoroti persoalan defisit moral sebagai salah satu ancaman paling krusial bagi masa depan Indonesia. Menurutnya, masalah ini menjadi tantangan serius yang muncul di tengah pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Pernyataan tersebut disampaikan Syafiq saat menjadi pembicara dalam Sarasehan Nasional Forum Masyarakat Katolik Indonesia (FMKI) 2026. Acara yang mengusung tema “FMKI Bergerak dan Bergegas – Mencintai Indonesia: Merawat Hikmat Kebijaksanaan, Menjaga Keadaban Republik” tersebut digelar di Hall Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Jakarta Pusat.

Dalam pandangannya, kemajuan sains dan teknologi tidak selalu berbanding lurus dengan peningkatan moralitas masyarakat. Meski inovasi teknologi dapat dimanfaatkan untuk mendongkrak kesejahteraan material, kemerosotan moral tetap bisa terjadi apabila tidak dibarengi dengan komitmen nilai yang kuat.

“Kalau saya diminta untuk mendefinisikan defisit apa yang paling vital, yang paling membahayakan, adalah defisit moral ini,” tegas Syafiq.

Ia memberi contoh pada perkembangan berbagai bidang ilmu seperti akuntansi, ekonomi, administrasi publik, hingga tata kelola kebijakan yang kini semakin canggih. Menurut Syafiq, kemajuan sistem tersebut belum secara otomatis melahirkan integritas dan rasa tanggung jawab moral dari para pengelolanya.

Oleh karena itu, tantangan terbesar bangsa saat ini bukan sekadar mengejar ketertinggalan teknologi, melainkan bagaimana merawat dan menjaga moralitas di tengah arus modernisasi.

Dalam kesempatan itu, Syafiq secara khusus menggarisbawahi peran vital para tokoh dan pemeluk agama. Ia menilai, ajaran agama sepatutnya menjadi sumber kebajikan yang mendorong lahirnya kejujuran, keadilan, dan kepedulian sosial di tengah kehidupan bermasyarakat.

Syafiq juga menyinggung hasil sejumlah survei yang mengindikasikan adanya celah antara tingkat religiositas formal dengan perilaku moral sehari-hari.

“Orang akan ramai-ramai meninggalkan agama kalau kita gagal di dalam menjawab tantangan ini. Dan gagal di dalam membuktikan bahwa orang seharusnya semakin religius itu seharusnya semakin bermoral,” terangnya.

Atas dasar itu, ia mengingatkan agar agama tidak dihentikan hanya pada tataran keyakinan dan praktik ritual belaka. Agama harus difungsikan secara nyata untuk membangun tatanan sosial yang berkeadilan, menyejahterakan, dan membina integritas individu.

Lebih jauh, Syafiq mengajak seluruh komponen masyarakat untuk menyatukan rasa cinta kepada Tuhan, kemanusiaan, serta bangsa dan negara. Ketiga aspek tersebut dinilai saling berkaitan dan harus diwujudkan melalui aksi konkret dalam menyelesaikan berbagai persoalan kebangsaan.

Ia menekankan bahwa semangat untuk menjaga Indonesia harus melampaui berbagai sekat perbedaan, baik dari segi agama, pandangan politik, status sosial, maupun latar belakang budaya.

“Kita punya tugas yang sangat berat bagaimana agama kita benar-benar fungsional di dalam membentuk manusia yang benar-benar bisa membawa Indonesia ini menjadi negara yang maju. Menjadi negara yang berkeadilan, negara yang berkesejahteraan,” pungkas Syafiq.
Bagikan berita ini: