Agung Danarto Tekankan Pentingnya Pembinaan, Distribusi, dan Pengawasan Kader Muhammadiyah

BATURMU.COM, YOGYAKARTA — Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Agung Danarto, menegaskan pentingnya memperkuat sistem pembinaan, distribusi, hingga pengawasan kader guna menjaga keberlanjutan gerakan Persyarikatan. Menurutnya, kaderisasi tidak sekadar mempersiapkan sumber daya manusia untuk mengelola Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), melainkan juga menanamkan komitmen ideologis dan keberpihakan yang kuat terhadap organisasi.
Pernyataan tersebut disampaikan Agung dalam acara Soft Launching Rumah Kader yang berlangsung pada Ahad (25/10). Ia menilai saat ini Muhammadiyah memiliki citra publik yang sangat baik, yang tercermin dari pandangan positif masyarakat terhadap pengelolaan jaringan pendidikan, kesehatan, serta aset yang dimiliki Persyarikatan.
Keberadaan ratusan Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan AUM di seluruh Indonesia menjadi modal strategis dalam proses kaderisasi. Kendati demikian, Agung mengingatkan bahwa keberhasilan pengusahaan AUM tidak boleh hanya diukur dari aspek manajemen atau kualitas layanan teknis semata. Pengembangan AUM harus berbanding lurus dengan penguatan ideologi para kadernya.
“Sehingga nanti dampaknya bukan hanya AUM-nya memiliki kualitas tinggi, tetapi bagaimana AUM memiliki dampak yang positif bagi warga masyarakat untuk merasa menjadi bagian dari Persyarikatan Muhammadiyah,” ujar Agung.
Ia menambahkan, konsep keimanan dalam paham Muhammadiyah harus selalu diwujudkan melalui tindakan nyata yang berkesinambungan. Amal saleh yang membawa manfaat luas bagi masyarakat inilah yang kemudian dilembagakan menjadi Amal Usaha Muhammadiyah.
“Bagi Muhammadiyah, keberimanan seseorang itu harus ditunjukkan pada amalnya, bukan hanya pada keyakinan, tetapi harus berimplikasi pada amal. Amal yang terbaik adalah amal yang punya efek berkelanjutan. Itulah yang namanya amal saleh. Amal saleh di Muhammadiyah dilembagakan menjadi amal usaha,” ungkapnya.
Selain optimalisasi AUM, Agung menyoroti peran penting Organisasi Otonom (Ortom) Muhammadiyah sebagai wadah utama penempaan kader muda. Di tengah dinamika politik yang semakin kompetitif, kader muda rawan terpapar pragmatisme maupun praktik politik uang jika tidak dibekali fondasi nilai-nilai keislaman yang kokoh.
Oleh karena itu, Persyarikatan berkewajiban membentengi para kader muda agar mampu menjaga integritas dan tidak terjebak menjadi pelaku maupun korban dari sistem yang merusak.
“Kalau tidak segera kita amankan, akan semakin banyak lagi korban. Bagaimana caranya supaya anak-anak kader kita tidak menjadi pelaku maupun korban politik uang?” tegasnya.
Di samping pembekalan ideologi, Muhammadiyah juga berkomitmen memberikan dukungan nyata bagi pengembangan kapasitas kader agar mampu bersaing secara sehat di berbagai ranah profesional. Langkah konkret yang dilakukan antara lain memfasilitasi program peningkatan kompetensi melalui kerja sama dengan LBIB hingga membuka peluang studi di perguruan tinggi ternama di luar negeri.
Agung mendorong agar kader-kader Muhammadiyah siap berdiaspora dan berkontribusi di berbagai sektor kebangsaan, baik di ranah eksekutif, legislatif, maupun yudikatif. Namun, ia mewanti-wanti agar kader yang berkiprah di luar struktur Persyarikatan tidak dilepas begitu saja tanpa pendampingan.
“Kader-kader yang berdiaspora jangan dibiarkan berjalan sendiri,” imbaunya.
Dalam konteks inilah, keberadaan Rumah Kader memegang peranan krusial sebagai pusat perancangan, pendistribusian, sekaligus pengawasan kiprah kader di tengah masyarakat. Agung berharap model Rumah Kader ini dapat direplikasi di berbagai daerah agar konsolidasi kaderisasi berjalan lebih efektif dan terarah.
“Karena itu, rumah-rumah kader seperti ini memang perlu diperbanyak. Orang-orang yang memikirkan kader kita, mulai dari pembinaan, kemudian distribusi, hingga pengawasan, harus diperbanyak di berbagai daerah, supaya kita punya ruang untuk membicarakan, mengeksekusi, dan mengawasi kader-kader kita,” pungkas Agung.
