Kabar Persyarikatan

MPM PP Muhammadiyah Dorong Pembentukan Perdes Perlindungan Pekerja Migran

Redaksi Baturmu
27 Oktober 20263 Menit
MPM PP Muhammadiyah Dorong Pembentukan Perdes Perlindungan Pekerja Migran

BATURMU.COM, CIREBON — Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah mendorong pembentukan Peraturan Desa (Perdes) guna memperkuat perlindungan dan pemberdayaan Pekerja Migran Indonesia (PMI). Langkah tersebut mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) Implementasi Program Desa Migran Berkemajuan yang digelar di Aula FKIP Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC), Sabtu (24/10).

Mengusung tema "Pembelajaran Praktik Baik dan Penguatan Kolaborasi Multipihak dalam Pemberdayaan Masyarakat Desa Migran", forum ini bertujuan mempererat sinergi lintas sektor dalam pelaksanaan Program Sahabat Migran Berkemajuan (SaranMu) demi meningkatkan kesejahteraan para pekerja migran dan keluarganya.

Wakil Ketua MPM PP Muhammadiyah, Irvan Mawardi, menegaskan bahwa komitmen Muhammadiyah dalam mengadvokasi isu buruh migran telah berjalan secara konsisten sejak tahun 2005. Kepedulian ini kemudian dipertegas kembali melalui amanat Muktamar ke-48 di Solo sebagai wujud nyata perlindungan bagi kelompok rentan.

Guna menghadirkan payung hukum yang konkret di tingkat tapak, MPM PP Muhammadiyah menggandeng Fakultas Hukum UMC untuk mendampingi proses perancangan hukum (legal drafting) penyusunan Perdes, salah satunya di wilayah Suranenggala, Cirebon.

"Tingginya pemahaman hukum warga Cirebon membuka ruang besar bagi FH UMC untuk memelopori penyusunan legalitas perlindungan pekerja migran. Kebijakan nasional harus berdampak nyata di tingkat akar rumput. Melalui perumusan Perdes di Suranenggala, kami memastikan perlindungan hukum hadir langsung di desa asal demi menjamin keselamatan para pahlawan devisa sedari awal," ujar Irvan.

Pada kesempatan yang sama, Koordinator Program Desa Migran Berkemajuan MPM PP Muhammadiyah, Muhammad Fajrus Shodiq, memaparkan bahwa program ini dilaksanakan di dua daerah kantong pengirim PMI, yaitu Cirebon dan Lampung Tengah. Program ini menjadi jembatan antara gerakan internasionalisasi Muhammadiyah melalui Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) dengan basis akar rumput.

Shodiq menambahkan, inisiatif ini berfokus pada tiga pilar utama: kemandirian ekonomi (seperti pengembangan usaha camilan), pembinaan sosial dan keagamaan bagi keluarga pekerja migran, serta jaminan perlindungan hukum.

Dukungan penuh juga datang dari pihak akademisi. Wakil Rektor I UMC, Badawi, menyambut positif penyelenggaraan FGD ini dan berharap dapat menghasilkan solusi berkelanjutan bagi para pekerja migran yang merupakan aset strategis bangsa.

"Melalui pembelajaran praktik baik dan kolaborasi multipihak, kegiatan ini menempatkan pekerja migran sebagai aset bangsa bernilai strategis, baik dari sisi ekonomi maupun transfer pengetahuan ke daerah asal. Kami sangat mendukung kegiatan yang berorientasi memberikan solusi bagi pekerja migran," pangkas Badawi.
Bagikan berita ini: