Maknai Sumpah Pemuda, Irwan Akib Sebut Nalar Matematika Ajarkan Pentingnya Merawat Persatuan

BATURMU.COM, JAKARTA — Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Irwan Akib, mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memaknai peringatan Sumpah Pemuda sebagai momen penting dalam merawat keberagaman dan memperkokoh persatuan bangsa. Menurutnya, pemaknaan tersebut dapat dipahami melalui filosofi nalar matematika yang mengedepankan logika, keteraturan, serta keselarasan di tengah perbedaan.
Gagasan tersebut disampaikan Irwan melalui tulisannya yang berjudul Nalar Matematika dalam Sumpah Pemuda pada Rabu (28/10). Ia menjelaskan bahwa matematika tidak sebatas berurusan dengan rumus dan hitungan angka, melainkan juga mengajarkan pola pikir logis serta cara mencari titik temu dari bermacam unsur yang berbeda.
Dalam konteks sejarah Sumpah Pemuda 1928, Irwan menganalogikannya dengan teori himpunan. Indonesia dipandang sebagai wadah besar yang dihuni oleh bermacam kelompok dengan latar belakang, budaya, dan identitas yang beragam. Melalui momentum Sumpah Pemuda, kelompok-kelompok tersebut menemukan irisan kesadaran bersama tanpa harus menghilangkan identitas kedaerahannya.
"Persatuan sejati bukanlah hasil dari operasi reduksi yang menyeragamkan semua angka menjadi monoton, melainkan hasil dari operasi penjumlahan dan perkalian dari matriks-matriks yang berbeda, yang bekerja bersama menghasilkan sebuah determinan yang kuat," tegas Irwan.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa persatuan tidak boleh diartikan sebagai penyeragaman. Sebaliknya, persatuan diwujudkan dengan mengapresiasi keunikan tiap-tiap unsur dan mengarahkan perbedaan tersebut demi kemaslahatan bersama. Dalam pandangannya, nilai keindonesiaan berfungsi sebagai konstanta yang menjaga keseimbangan, sedangkan keragaman adat, bahasa, budaya, hingga pilihan politik merupakan variabel yang dinamis.
Irwan juga menyoroti tantangan persatuan bangsa di era digital. Menurutnya, ruang publik siber kini kerap diwarnai oleh polarisasi dan fanatisme kelompok yang menjebak masyarakat dalam pola pikir hitam-putih. Hal ini membuat realitas seolah hanya terbagi menjadi dua pilihan ekstrem, seperti benar atau salah, serta kawan atau lawan.
Untuk mengatasi fenomena tersebut, nalar matematika dapat menjadi sarana pembelajaran bahwa realitas tidak selalu sesederhana dua pilihan yang saling meniadakan. Di samping itu, literasi digital harus disertai dengan etika, kecerdasan emosional, serta budaya tabayyun atau verifikasi informasi agar masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh berita bohong maupun narasi adu domba.
Irwan menekankan bahwa semangat Sumpah Pemuda harus diwujudkan dalam aksi nyata yang berdampak langsung bagi masyarakat, bukan sekadar menjadi seremoni tahunan. Generasi muda diharapkan mampu membangun kolaborasi inklusif di berbagai sektor, seperti memajukan pendidikan di daerah terpencil, merawat kelestarian lingkungan, dan mengembangkan ekonomi kreatif.
Sebagai penutup, ia menganalogikan kebinekaan Indonesia bak sistem persamaan yang membutuhkan keadilan, kesetaraan hak, dan persatuan agar tetap seimbang. Tugas utama generasi muda saat ini adalah menjaga agar nilai-nilai luhur tersebut tidak tergerus oleh fanatisme destruktif demi mewujudkan Indonesia yang berkemajuan.
