Menjaga Kesehatan Mental dan Ketahanan Diri Melalui Kebiasaan Bersyukur

BATURMU.COM, YOGYAKARTA — Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Bantul, Syahrul, mengajak umat Islam untuk menjadikan rasa syukur sebagai gaya hidup. Langkah ini dinilai efektif dalam memperkuat kesehatan mental sekaligus membentuk kepribadian yang lebih tangguh dan berakhlak mulia.
Poin tersebut disampaikan Syahrul saat mengisi pengajian di Masjid KH Sudja, Yogyakarta, Ahad (18/10). Menurutnya, rasa syukur tidak hanya diucapkan di bibir, tetapi harus diwujudkan dalam cara seseorang menyikapi persoalan hidup, menjalankan pekerjaan, serta mendidik diri sendiri.
Ia menjelaskan bahwa ajaran Islam memiliki landasan kuat terkait pentingnya bersyukur, salah satunya tercantum dalam Surah Ibrahim ayat 7. Ayat tersebut mengingatkan bahwa syukur berkaitan erat dengan kemampuan manusia untuk menerima dan menghargai setiap nikmat yang diperoleh agar tidak terjebak dalam rasa kekurangan.
“Rasa cukup itu tidak pernah diukur dengan kuantitas, tidak pernah bisa diukur dengan isi tas. Dia diukur dengan hati yang salim,” jelas Syahrul.
Memperkuat pandangan tersebut, Syahrul merujuk pada penelitian psikolog Robert Emmons mengenai kebiasaan bersyukur (gratitude). Kebiasaan ini terbukti memberikan dampak positif bagi seseorang dalam menghadapi tekanan hidup. Sebagai contoh, ketika tertimpa musibah kecelakaan, seseorang dapat melatih rasa syukur karena masih diberi keselamatan jiwa meskipun kendaraannya mengalami kerusakan.
Menurut Syahrul, cara pandang ini bukan bentuk mengabaikan masalah, melainkan upaya membangun kekuatan mental agar mampu menghadapi kesulitan dengan lebih bijak.
Syukur dan Ketahanan Mental
Syahrul menilai kebiasaan bersyukur sangat penting di tengah meningkatnya persoalan kesehatan mental masyarakat, termasuk maraknya fenomena anak muda yang melukai diri sendiri saat mengalami kecemasan atau tekanan hidup. Ia menceritakan pengalamannya saat menjumpai siswa yang melukai tangannya akibat kecewa menghadapi persoalan.
Rasa syukur, lanjutnya, menjadi ikhtiar nyata untuk membangun ketahanan mental. Dengan menyadari nikmat yang masih ada dan menempatkan masalah secara proporsional, seseorang tidak akan mudah kehilangan harapan.
Ia menggambarkan masalah hidup seperti segenggam garam. Jika garam tersebut dilarutkan ke dalam segelas air, rasanya akan sangat asin. Namun, jika garam yang sama dimasukkan ke dalam sumur, rasa asinnya tidak akan terasa.
“Masalah itu tergantung wadahnya. Hati kita itu bagaimana menetralisir masalah,” ujarnya.
Syahrul juga mengingatkan bahwa kenikmatan yang melimpah belum tentu membawa kebaikan jika justru menjauhkan seseorang dari Allah. Sebaliknya, musibah bisa menjadi sarana untuk introspeksi dan mendekatkan diri kepada-Nya.
Selain dalam menyikapi musibah, rasa syukur juga perlu diwujudkan melalui tindakan nyata dalam aktivitas sehari-hari, seperti bekerja, mencari nafkah, dan mengasuh anak. Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam Surah Saba ayat 13 yang menekankan pentingnya bekerja sebagai bentuk rasa syukur.
Mendidik Diri Secara Menyeluruh
Lebih lanjut, Syahrul mengajak umat Islam untuk membiasakan diri mendidik dan membenahi diri sendiri sebelum sibuk menasihati orang lain. Pengembangan diri ini harus mencakup keseimbangan antara unsur jasmani dan rohani (akal, kalbu, nafsu, dan ruh).
Ia mengkritik pemahaman bahwa pendidikan tinggi secara otomatis menjamin kebaikan seseorang. Pengetahuan yang luas tanpa didasari adab dan akhlak justru berpotensi disalahgunakan untuk merugikan orang lain.
“Harusnya kampus-kampus itu membuat penilaian pada pendidikan akhlak. Karena kenapa? Kalau orang akhlaknya baik, diisi ilmu apa pun insyaallah baik,” tuturnya.
Di samping ketahanan rohani, menjaga kesehatan jasmani melalui pemenuhan gizi yang cukup, istirahat, olahraga, dan kebersihan juga menjadi modal penting agar seseorang dapat beribadah secara optimal. Namun, ia mengingatkan agar pemenuhan kebutuhan fisik tersebut dilakukan secara wajar dan tidak berlebihan, sebagaimana diperintahkan dalam Surah Al-A’raf ayat 31.
