Menjaga Etika Komunikasi di Era Digital: Arif Rahman Ingatkan Bahaya Fitnah dan Gibah Media Sosial

BATURMU.COM, YOGYAKARTA — Pesatnya kemajuan teknologi digital membawa dampak besar terhadap cara manusia berinteraksi dan berbagi informasi. Namun, kemudahan akses media sosial juga menyimpan ancaman serius berupa maraknya praktik gibah, fitnah, serta penyebaran kebencian di ruang publik.
Kondisi ini menegaskan pentingnya umat Islam untuk tetap memegang teguh etika berkomunikasi, baik secara lisan maupun melalui tulisan di platform digital. Pesan tersebut disampaikan oleh Anggota Majelis Pustaka dan Informasi Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DI Yogyakarta, Arif Rahman, saat mengisi ceramah di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Ahad (01/11).
Dalam ceramahnya, Arif mengingatkan ajaran Rasulullah SAW mengenai bahaya ucapan yang mampu merusak keharmonisan hubungan antarmanusia. Ia menyinggung sebuah hadis yang menceritakan tentang siksa kubur, di mana salah satu penyebabnya adalah kebiasaan melakukan namimah atau mengadu domba semasa hidup.
Lebih lanjut, Arif memaparkan perbedaan mendasar antara gibah dan fitnah agar masyarakat tidak terjerumus dalam perilaku zalim tersebut.
“Walaupun faktanya demikian, kalau orang yang kita bicarakan tidak senang dengan pembicaraan itu, maka disebut gibah. Tetapi kalau sesuatu yang kita bicarakan itu tidak terbukti kebenarannya, itulah fitnah,” tegas Arif.
Menurut Arif, fenomena kejahatan lisan kian kompleks di era serba digital. Praktik pembunuhan karakter, gibah, dan fitnah kini kerap dikemas menarik melalui berbagai konten media sosial hingga podcast. Bahkan, tidak sedikit informasi hoaks dan propaganda yang sengaja disebarkan secara terorganisasi demi menggiring opini publik demi imbalan tertentu.
Ia menekankan bahwa transformasi media komunikasi berkonsekuensi pada pergeseran perilaku. Jika dahulu masyarakat mengenal pepatah "mulutmu harimaumu", kini peringatan tersebut telah bergeser ke ranah jemari.
“Di era digital sekarang, orang gibah dan fitnah itu tidak secara verbal lagi. Sudah pakai jari-jari ini. Jadi, kalau dulu ada pepatah mulutmu harimaumu, sekarang jarimu adalah harimaumu,” ungkapnya.
Oleh karena itu, ia mengimbau jamaah untuk selalu berhati-hati serta mempertimbangkan dampak sosial dari setiap informasi yang hendak diunggah atau dibagikan. Menurutnya, etika dalam berkomunikasi sangat mencerminkan kualitas keimanan seseorang, sebagaimana pesan Nabi SAW yang memerintahkan umatnya untuk berkata yang baik atau memilih diam.
Di akhir paparan, Arif mengajak umat Islam untuk secara aktif menerapkan prinsip amar makruf nahi munkar ketika mendapati kemungkaran di dunia nyata maupun media digital, sesuai dengan kapasitas masing-masing.
“Kalau kita melihat sebuah kemungkaran, cegah dengan peran kita. Kalau tidak mampu, dengan lisan kita tegur. Kalau tidak mampu juga, paling tidak hati kita masih punya iman bahwa itu adalah sesuatu yang salah,” pungkasnya.
