Menghadapi Era Digital, Muhammadiyah Tegaskan Pentingnya Integrasi Agama dan Teknologi

BATURMU.COM, BANDUNG — Perubahan zaman membawa pergeseran tantangan bagi Muhammadiyah. Jika di masa lalu tantangan utama berupa kemiskinan dan kebodohan fisik, kini persyarikatan dihadapkan pada ancaman kemiskinan makna di tengah kelimpahan materi serta kebodohan digital di era banjir informasi.
Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Dadang Kahmad, dalam pengajian Gerakan Subuh Mengaji (GSM) bertajuk "Muhammadiyah dan Masa Depan Agama" yang diselenggarakan oleh Pimpinan Wilayah 'Aisyiyah (PWA) Jawa Barat pada Jumat (9/10).
Sebagai Guru Besar Sosiologi Agama, Dadang menilai bahwa pesatnya perkembangan teknologi tidak akan menghapus kebutuhan mendasar manusia akan makna hidup. Menurutnya, kecanggihan teknologi tidak secara otomatis mampu memberikan kedalaman spiritual.
“Bahkan mungkin sebaliknya, semakin canggih teknologi, semakin manusia membutuhkan jawaban atas pertanyaan yang tidak dapat diselesaikan hanya dengan algoritma,” tutur Dadang.
Ia menegaskan bahwa agar agama tetap eksis dan relevan di masa depan, umat tidak boleh bersikap anti-sains atau menolak kemajuan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Agama masa depan harus mampu menjadi pemandu moral bagi ilmu pengetahuan sekaligus memberikan kedalaman spiritual bagi kehidupan manusia.
Menurut Dadang, pemahaman keagamaan ke depan tidak boleh bersifat dikotomis. Agama harus memiliki kecakapan dalam merawat wahyu, menghidupkan akal budi, membangun akhlak mulia, menghargai sains, menjaga kelestarian bumi, serta menghadirkan kemaslahatan bagi seluruh alam.
Inovasi Digital dan Peran Muhammadiyah di Kancah Global
Sejak awal berdiri, Muhammadiyah telah menempatkan agama dan ilmu pengetahuan dalam posisi yang harmonis dan saling mendukung. Persyarikatan senantiasa memanfaatkan ilmu pengetahuan untuk memperluas jangkauan dakwah dan menebar manfaat nyata.
Bentuk konkret pemanfaatan teknologi oleh Muhammadiyah saat ini antara lain melalui penataan sistem Satu Data Muhammadiyah (SATUMU) untuk integrasi data organisasi. Selain itu, dikembangkan pula aplikasi MASA sebagai pintu pelayanan keanggotaan melalui pembuatan Kartu Tanda Anggota Muhammadiyah elektronik (e-KTAM).
Dadang juga mendorong para kader dan simpatisan untuk aktif menyuarakan narasi positif di berbagai platform media sosial. Langkah ini penting dilakukan guna mempromosikan berbagai praktik baik dan kontribusi nyata yang telah dilakukan Muhammadiyah.
Di tingkat internasional, Muhammadiyah kini kerap dijadikan sebagai representasi wajah Islam yang berkemajuan oleh berbagai negara dan organisasi Islam dunia. Kehadiran jaringan sekolah modern, rumah sakit, hingga panti asuhan menjadi bukti nyata keunggulan tata kelola organisasi ini.
“Kita saat ini menjadi kebanggaan orang-orang, bagaimana kita bisa membuat sekolah (Islam modern), rumah sakit, panti asuhan, dan lain sebagainya. Itu jarang dimiliki oleh organisasi Islam,” ungkapnya.
Kendati demikian, Dadang mengingatkan agar seluruh warga Muhammadiyah tidak cepat berpuas diri dengan capaian yang ada saat ini. Terobosan dan inovasi berkelanjutan masih terus dinantikan oleh masyarakat dunia dari Muhammadiyah di abad keduanya.
