Mendikdasmen Abdul Mu'ti Dorong Hizbul Wathan Jadi Kepanduan Berkemajuan dan Solutif Bagi Generasi Muda

BATURMU.COM, METRO — Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia (Mendikdasmen RI) sekaligus Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Abdul Mu’ti, menegaskan pentingnya peran Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan (HW) dalam merespons berbagai tantangan zaman, khususnya persoalan yang dihadapi oleh generasi muda saat ini.
Pernyataan tersebut disampaikan Mu’ti saat memberikan amanat pada Pembukaan Tanwir ke-1 Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan bertajuk "Meneguhkan Kepanduan Berkemajuan" yang digelar di Universitas Muhammadiyah Metro, Kamis (08/10). Forum Tanwir Kwartir Pusat (Kwarpus) ini merupakan permusyawaratan tertinggi kedua di bawah Muktamar yang berfungsi mengevaluasi kinerja serta merumuskan kebijakan strategis organisasi.
Dalam arahannya, Mu’ti menyoroti dua tantangan besar kehidupan berbangsa saat ini, yaitu arus keterbukaan informasi dan pergeseran perilaku generasi penerus, khususnya Generasi Z dan Alpha. Ia menilai persoalan mentalitas generasi muda perlu mendapat perhatian serius karena banyaknya fenomena anak muda yang rentan atau kerap dianalogikan sebagai generasi stroberi.
"Mereka mungkin, performanya kelihatan gagah, keren, kece. Tetapi begitu terkena sinar matahari langsung melempem, langsung layu dan loyo," ujar Mu’ti.
Merujuk pada buku The Anxious Generation karya Jonathan Haidt, Mu’ti menjelaskan bahwa cemas berlebihan dan ketidakberanian dalam menghadapi tantangan hidup memicu peningkatan gangguan jiwa hingga angka bunuh diri. Selain itu, derasnya paparan informasi dunia luar tanpa benteng yang kuat turut mengikis rasa cinta tanah air dan jiwa nasionalisme generasi muda.
Menghadapi situasi tersebut, Mu’ti menekankan bahwa prinsip dan motto Hizbul Wathan, yaitu fastabiqul khoirot (berlomba-lomba dalam kebaikan), harus diimplementasikan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari, bukan sekadar diulang dalam pidato formal.
Ia mengajak seluruh jajaran kepanduan HW untuk membuka diri dan merangkul generasi muda secara aktif. Menurutnya, HW tidak boleh terjebak dalam romantisme sejarah masa lalu atau hanya diisi oleh generasi tua, melainkan harus bertransformasi menjadi gerakan yang adaptif dan berkemajuan.
"HW yang lebih dekat dengan masyarakat dimanapun berada, dan menjadi kekuatan muda yang memberikan solusi nyata bagi persoalan generasi muda itu sendiri," kata Mu’ti.
Menutup amanatnya, Mu’ti mengingatkan kembali pentingnya menjiwai sepuluh butir Undang-Undang Pandu Hizbul Wathan, terutama poin terakhir tentang kesucian dalam hati, pikiran, perkataan, dan perbuatan. Di tengah maraknya penyebaran fitnah dan berita bohong (hoaks) saat ini, kader HW diminta untuk senantiasa menjaga kebersihan pikiran dan tutur kata (qaulan kariman dan qaulan layinan) demi mendorong kemajuan bangsa.
