Kabar Persyarikatan

Dorong Revitalisasi Hizbul Wathan, PP Muhammadiyah Tekankan Pentingnya Inovasi Kepanduan Bagi Generasi Muda

Redaksi Baturmu
8 Oktober 20263 Menit
Dorong Revitalisasi Hizbul Wathan, PP Muhammadiyah Tekankan Pentingnya Inovasi Kepanduan bagi Generasi Muda

BATURMU.COM, YOGYAKARTA — Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Agung Danarto, mendorong Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan (HW) untuk terus merevitalisasi diri. Langkah ini dinilai sangat krusial agar HW tetap relevan dengan perkembangan zaman serta mampu menjawab kebutuhan generasi muda masa kini.

Pesan tersebut disampaikan Agung saat memberikan arahan dalam gelaran Sidang Tanwir I Hizbul Wathan yang berlangsung di Universitas Muhammadiyah Metro. Dalam forum tersebut, Agung mengajak seluruh kader untuk merefleksikan perjalanan panjang HW sejak pertama kali didirikan oleh pendiri Muhammadiyah, KH. Ahmad Dahlan, pada tahun 1918.

Ia memaparkan dinamika sejarah HW yang sempat melebur ke dalam kepanduan Pramuka pada tahun 1961, sebelum akhirnya resmi dihidupkan kembali pada tahun 1999 sebagai organisasi otonom Muhammadiyah.

Lebih lanjut, Agung menguraikan filosofi di balik nama Hizbul Wathan. Berasal dari kata Hizbun yang berarti pembela atau tentara, dan Al-Wathan yang bermakna tanah air, Hizbul Wathan secara harfiah diartikan sebagai "Pembela Tanah Air". Hal ini mencerminkan tingginya semangat nasionalisme pendiri Muhammadiyah sejak puluhan tahun lalu.

"Bisa dibayangkan ketika 1918 ketika KH Ahmad Dahlan mendirikan HW, bagaimana jiwa nasionalis yang dimiliki Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, yang ingin agar anak-anak muda yang dibina oleh Muhammadiyah memiliki kecintaan yang luar biasa atas tanah dan air yang dimiliki," tutur Agung.

Sejalan dengan tema Tanwir I, yaitu "Meneguhkan Kepanduan Berkemajuan", Agung menegaskan pentingnya mentransformasi pendekatan pembinaan HW. Menurutnya, HW tidak boleh hanya bergantung pada materi kepanduan konvensional jika ingin mempertahankan minat anak muda.

"Kalau HW hanya berkutat pada pembinaan-pembinaan yang sifatnya klasik, terbatas kepada latihan baris-berbaris, tali-temali, semaphore, mendirikan tenda, kalau sebatas hanya itu mungkin minat anak muda akan semakin menurun terhadap gerakan Hizbul Wathan," ungkapnya.

Selain fokus pada pembaharuan metode pembinaan, PP Muhammadiyah juga mendorong HW untuk menyelesaikan agenda besar terkait perluasan struktur organisasi. Agung berharap proses konsolidasi pasca-Tanwir hingga Muktamar mendatang mampu memperkuat kepengurusan HW sehingga dapat hadir secara merata di 38 provinsi di Indonesia.

Agung menutup penjelasannya dengan mengingatkan bahwa semangat kepanduan dan kecintaan terhadap bangsa harus dibuktikan melalui aksi nyata yang berdampak, bukan sekadar jargon semata.

"Pembela Tanah Air tidak cukup dengan slogan NKRI harga mati, tetapi harus ada upaya-upaya serius bagaimana menumbuhkan rasa kecintaan kepada tanah air dengan sebaik-baiknya," tegas Agung.
Bagikan berita ini: