Mahasiswa SIBERMU Masuk Hall Of Fame NASA Usai Temukan Celah Keamanan Siber

BATURMU.COM, YOGYAKARTA — Pesatnya perkembangan teknologi tidak hanya memerlukan infrastruktur digital yang kuat, melainkan juga talenta-talenta muda yang jeli melihat peluang serta mampu mengantisipasi potensi ancaman siber. Hal tersebut dibuktikan oleh Muhammad Nur Ibnu Hubab, mahasiswa baru Universitas Siber Muhammadiyah (SIBERMU) yang sukses menorehkan prestasi di tingkat internasional.
Ibnu berhasil mengamankan tempat di Hall of Fame National Aeronautics and Space Administration (NASA). Pengakuan bergengsi ini didapatkannya setelah laporan temuan celah keamanan pada sistem NASA yang disampaikannya dinyatakan valid melalui program Vulnerability Disclosure Program (VDP).
Pencapaian luar biasa ini diraih Ibnu tepat sebelum ia memulai masa perkuliahan pertamanya sebagai mahasiswa Program Studi Sistem Informasi SIBERMU pada akhir September 2026.
Perjalanan Ibnu dalam mendalami dunia cyber security terbilang unik. Alumnus SMK Negeri 2 Pengasih, Kulon Progo ini sebenarnya berlatar belakang pendidikan otomotif. Namun, selepas lulus sekolah, ia merasa bidang tersebut bukan panggilan jiwanya dan memilih mengalihkan fokus ke dunia teknologi informasi melalui Pondok Teknologi Yogyakarta.
Awalnya, Ibnu mendalami dunia web development selama kurang lebih satu tahun. Saat memasuki tahun kedua, rasa jenuh mendorongnya untuk mencari tantangan baru yang lebih dinamis.
“Di tahun kedua saya merasa jenuh di dunia web. Jadi di sinilah saya mulai explore menuju dunia cyber security,” ujar Ibnu.
Keputusan tersebut menjadi titik balik yang berharga. Ibnu memperdalam keahlian siber secara otodidak melalui berbagai pelatihan bootcamp, membaca literatur teknis, hingga aktif berjejaring dalam komunitas. Pengetahuan yang didapatkannya langsung diterapkan sebagai seorang ethical hacker melalui program bug bounty, yaitu perburuan celah keamanan secara legal dan bertanggung jawab.
Sebelum menembus sistem NASA, Ibnu telah berulang kali menemukan serta melaporkan berbagai potensi kerentanan sistem di platform global seperti Perplexity dan ekosistem WordPress. Tak hanya itu, ia juga aktif membantu mengamankan situs-situs milik instansi pemerintah, perguruan tinggi, hingga pelaku UMKM.
Meski begitu, usahanya menembus sistem NASA tidak langsung berjalan mulus. Ia sempat menghadapi kegagalan beruntun sebelum akhirnya laporan temuannya diterima.
“Dari sinilah kemudian saya mencoba untuk hunting di NASA, tapi perjalanannya cukup lumayan lama. Hingga sekitar empat kali saya ditolak karena dinilai hasilnya kurang berdampak,” ungkapnya.
Penolakan berulang tidak surut melangkah. Ibnu kembali menganalisis sistem NASA untuk mencari celah lain yang memiliki tingkat risiko lebih tinggi. Pada percobaan kelima, usahanya membuahkan hasil manis. Laporan tersebut diverifikasi valid dan nama Ibnu secara resmi dicatatkan dalam Hall of Fame NASA sebagai bentuk apresiasi atas kontribusinya.
Pascaprestasi tersebut, Ibnu kini melangkah ke babak baru dalam pendidikannya sebagai mahasiswa angkatan ke-11 Program Studi Sistem Informasi SIBERMU. Keputusannya berkuliah bertujuan untuk melengkapi serta memperkuat keahlian teknis yang selama ini ia pelajari secara mandiri.
Kisah perjalanan Ibnu dari siswa jurusan otomotif, pengembang web, hingga menjadi peretas beretika berskala internasional membuktikan bahwa latar belakang pendidikan formal bukanlah batas untuk mempelajari disiplin ilmu baru.
“Yang penting selagi kita ada kemauan. Kemauan untuk belajar, kemauan untuk mengeksplor. Insyaallah nanti bakalan ada hasil. Yang penting kita bisa konsisten dan bersabar saja, semua prosesnya,” pesan Ibnu.
