Kabar Persyarikatan

Memahami Ayat Al-Qur’an dengan Sains: Pentingnya Kehati-hatian dan Kerendahan Hati Epistemologis

Redaksi Baturmu
7 Oktober 20264 Menit
Memahami Ayat Al-Qur’an dengan Sains: Pentingnya Kehati-hatian dan Kerendahan Hati Epistemologis

BATURMU.COM, YOGYAKARTA — Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Muhammad Syifa Amin Widigdo, menekankan pentingnya sikap hati-hati saat memahami ayat-ayat Al-Qur’an yang bersinggungan dengan ilmu pengetahuan atau sains. Menurutnya, hubungan antara kitab suci dan sains dapat dipahami melalui beberapa pendekatan yang masing-masing memiliki keunggulan serta keterbatasan.

Hal tersebut disampaikan Syifa dalam sebuah kajian yang berlangsung di Masjid KH Ahmad Dahlan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) pada Selasa (6/10). Ia menjelaskan bahwa salah satu pendekatan yang cukup populer di kalangan ulama adalah al-i‘jāz al-‘ilmī, yakni pembuktian kemukjizatan ilmiah Al-Qur’an.

Melalui pendekatan al-i‘jāz al-‘ilmī, ayat-ayat Al-Qur’an dipandang telah memuat kebenaran ilmiah jauh sebelum sains modern mampu membuktikannya. Penafsiran ini kerap dikaitkan dengan berbagai fenomena alam, seperti embriologi, astronomi, hingga kosmologi. Tokoh-tokoh yang dikenal kerap menggunakan pendekatan ini antara lain Ibnu Badis, Maurice Bucaille, Zaghlul al-Najjar, Harun Yahya, serta Abdul Majid al-Zindani.

“Bahwa ayat-ayat Al-Qur’an itu mengandung kebenaran, mengandung sainsnya mengandung kebenaran. Pada zaman diturunkannya Al-Qur’an itu belum ada bukti-bukti sains yang membuktikan kebenaran Al-Qur’an,” jelas Syifa.

Meski pendekatan tersebut memberi rasa nyaman secara teologis dan mudah diterima masyarakat luas, Syifa mengingatkan adanya titik rawan. Teori ilmiah pada dasarnya bersifat dinamis, dapat direvisi, atau bahkan digugurkan oleh penemuan baru. Jika penafsiran yang mengaitkan ayat suci dengan teori tertentu kemudian terbukti salah akibat perkembangan sains, timbul risiko munculnya persepsi keliru bahwa Al-Qur'an-lah yang salah, padahal yang keliru adalah tafsiran manusianya.

“Jangan sampai kalau suatu saat di hari kemudian ada revisi ilmu pengetahuan, let’s say ada temuan baru bahwa asal atau awal mula alam semesta itu tidak dari black hole. Jangan sampai Al-Qur’an yang mukjizat tadi itu sebagai sebuah kesalahan. Yang kesalahan itu adalah tafsirnya,” tegasnya.

Oleh karena itu, Syifa mengemukakan pendekatan kedua, yaitu al-tafsīr al-‘ilmī atau penafsiran ilmiah. Metode ini tetap memanfaatkan ilmu pengetahuan untuk membantu memahami teks Al-Qur'an, namun hasil pembacaannya secara tegas diakui sebagai bentuk ijtihad manusia yang memiliki batas dan peluang salah.

Pendekatan ini diusung oleh sejumlah pemikir seperti Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh, Tantawi Jauhari, dan Nidhal Guessoum. Dalam corak ini, terdapat kerendahan hati epistemologis: apabila teori ilmiah berkembang atau berubah, yang dikoreksi adalah hasil penafsiran manusia, bukan kebenaran Al-Qur'an itu sendiri.

“Penafsiran ilmiah terhadap Al-Qur’an adalah penafsiran manusia yang mungkin saja salah, direvisi, atau di kemudian hari ada teori atau pembacaan yang lebih baik daripada pembacaan hari ini,” ujar Syifa.

Selain kedua metode tersebut, Syifa juga menyebutkan adanya kelompok yang memilih untuk tidak menafsirkan ayat-ayat sains menggunakan pendekatan ilmiah sama sekali. Pandangan ini beranggapan bahwa Al-Qur'an dan sains beroperasi pada domain serta cara kerja yang berbeda.

Syifa menilai bahwa keberagaman metode ini menunjukkan bahwa cara membaca Al-Qur’an tidaklah tunggal. Ia mendorong penggunaan pendekatan al-tafsīr al-‘ilmī sebagai sarana menjembatani keimanan dan metodologi ilmiah, sebagaimana dicontohkan dalam Surah Ali Imran ayat 191 yang mengajak manusia untuk senantiasa mengingat Allah sekaligus memikirkan penciptaan alam semesta.

“Cara apa pun dalam kita membaca Al-Qur’an, terutama ayat-ayat saintifiknya, mudah-mudahan itu menghantarkan kita semuanya pada keridaan Allah Subhanahu wa Ta’ala,” pungkasnya.
Bagikan berita ini: