Majelis Tabligh PP Muhammadiyah: Ibadah Haji Adalah Madrasah Pembentukan Akhlak dan Ketakwaan

BATURMU.COM, JAKARTA — Ibadah haji hendaknya tidak sekadar dipahami sebagai ritual tahunan, melainkan sebuah proses pendidikan spiritual yang mendalam. Melalui penghayatan manasik secara utuh, jemaah diharapkan mampu memperkuat ketakwaan, meneguhkan tauhid, serta membawa perubahan perilaku yang positif setelah kembali ke Tanah Air.
Pesan tersebut ditegaskan oleh Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Fahmi Salim, dalam acara Kajian Ahad TVMU. Ia menyampaikan bahwa ibadah haji menyimpan dimensi edukasi yang sangat luas karena memadukan tuntunan syariat, perjalanan sejarah kenabian, serta latihan kedisiplinan dan pengendalian diri.
Menurut Fahmi, pemahaman terhadap manasik haji harus dilakukan secara menyeluruh. Sebagai ibadah mahdah, pelaksanaan haji wajib berpatokan pada sunah Nabi Muhammad Saw. Namun, penguasaan tata cara ibadah saja belum cukup jika tidak diimbangi dengan peresapan makna spiritual di balik setiap rangkaiannya.
“Yang paling penting itu adalah penghayatannya, bukan variasi-variasi doanya,” ujar Fahmi.
Lebih lanjut, Fahmi menjelaskan bahwa salah satu esensi utama ibadah haji adalah penguatan tauhid melalui napak tilas perjuangan Nabi Ibrahim a.s. beserta keluarganya. Kawasan suci Makkah, Arafah, dan Mina digambarkan sebagai ruang pembelajaran terbuka yang merekam keteguhan dalam menegakkan tauhid dan menolak kemusyrikan.
Ia menekankan bahwa meneladani Nabi Ibrahim a.s. tidak ditentukan oleh garis keturunan biologis, melainkan dari pembentukan karakter spiritual, seperti keteguhan akidah, kepatuhan total kepada Allah Swt., kesediaan berkorban, dan kepemimpinan yang menentramkan. Selain itu, mobilitas fisik yang tinggi dan perjumpaan dengan beragam suku bangsa selama berhaji menjadi latihan nyata untuk mengendalikan hawa nafsu dan memupuk kesabaran.
Dampak positif dari pendidikan haji ini semestinya dapat dirasakan secara konkret. Gelar haji tidak berhenti saat rangkaian ritual selesai, tetapi harus tecermin dalam sikap hidup sehari-hari, keharmonisan keluarga, hingga kontribusi nyata di tengah masyarakat.
Fahmi juga mengaitkan pendidikan haji dengan sejarah pergerakan nasional Indonesia. Banyak tokoh kebangkitan umat yang sepulang dari Tanah Suci berhasil membangun kesadaran kebangsaan, membuktikan bahwa perjalanan spiritual mampu memberikan bekal berharga bagi kemajuan sosial.
Gagasan ini juga dibahas dalam buku karya Fahmi Salim yang diluncurkan di Perpustakaan Nasional pada 28 September lalu. Buku tersebut mengulas tiga fokus utama, yaitu manasik untuk ketakwaan, manasik untuk kebangkitan, serta refleksi haji sebagai madrasah akhlak, laboratorium persatuan umat, dan model perdamaian dunia.
Menutup pemaparannya, Fahmi mengingatkan agar persiapan ibadah haji dilakukan secara matang dan menyeluruh, mencakup kesiapan finansial, fisik, maupun spiritual. Calon jemaah diimbau memastikan seluruh bekal berasal dari sumber yang halal serta tetap menunaikan tanggung jawab terhadap keluarga yang ditinggalkan.
