Haedar Nashir Minta Pengelola Pendidikan Muhammadiyah Terus Inovatif dan Miliki Jiwa Irfani

BATURMU.COM, YOGYAKARTA — Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, mengimbau seluruh pengelola amal usaha pendidikan Muhammadiyah untuk senantiasa meningkatkan mutu, bekerja secara profesional, serta tidak berpuas diri dalam zona nyaman. Hal ini penting dilakukan guna merespons dinamika masyarakat yang kian berkembang serta standar pendidikan yang semakin tinggi.
Pesan tersebut disampaikan Haedar dalam acara peletakan batu pertama (groundbreaking) SMP Muhammadiyah Sapen Universal School (MSUS) yang berlangsung di kawasan Banyuraden, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Rabu (21/10).
Dalam arahannya, Haedar menjelaskan bahwa ekspektasi masyarakat saat ini bergerak sangat dinamis dan selalu menginginkan layanan yang lebih baik. Oleh karena itu, lembaga pendidikan Muhammadiyah dituntut untuk menghadirkan kualitas yang unggul dan berada di atas rata-rata.
Ia menambahkan, Muhammadiyah yang kini menjelang usia 114 tahun harus terus bergerak maju, beradaptasi, dan berikhtiar menjadi yang terbaik. Langkah ini diperlukan agar seluruh amal usaha Persyarikatan tetap relevan dan mampu menjawab kebutuhan zaman.
Mengutip pandangan Bupati Sleman Harda Kiswaya yang turut hadir dalam acara tersebut, Haedar menyampaikan bahwa pendidikan merupakan pilar strategis bagi kemajuan bangsa. Pembangunan sektor ini tidak boleh berfokus pada fisik bangunan semata, melainkan juga harus menyentuh penguatan ekosistem serta proses pendidikan secara menyeluruh.
Haedar juga mengingatkan bahwa keberhasilan Muhammadiyah dalam membangun berbagai amal usaha tidak diraih secara instan. Berbagai pencapaian yang ada merupakan hasil dari perjuangan panjang dan kesungguhan (mujahadah) dari seluruh elemen Persyarikatan.
Sebab itu, ia mendorong penguatan pola pikir berkemajuan serta keterbukaan terhadap kritik yang disampaikan secara proporsional. Haedar mengimbau agar ruang kritik tidak dimanfaatkan untuk mereduksi atau mengabaikan capaian besar yang telah dibangun bersama.
“Dan sering atas nama kritik, otokritik dan apa pun yang disebut dengan proses berpikir (kritis) itu sering kita mengabaikan bangunan besar yang sudah maju, yang sudah unggul, lalu yang terlihat adalah masalah dan biasanya sebagian publik suka dengan itu,” tutur Haedar.
Lebih lanjut, Haedar menyoroti kiprah nyata Muhammadiyah dan 'Aisyiyah yang konsisten menghadirkan sarana pendidikan hingga ke pelosok, daerah terisolasi, serta wilayah dengan keterbatasan sumber daya. Di berbagai penjuru daerah tersebut, para kader terus berjuang mendirikan taman kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah menengah, hingga perguruan tinggi.
Sebagai penyeimbang dari ikhtiar rasional dan berpikir kritis tersebut, Haedar menekankan pentingnya pengelola pendidikan memiliki jiwa irfani, yakni kepekaan rasa dan kebijaksanaan dalam menata kehidupan serta organisasi.
“Kalau tanpa rasa dan hidup serba rasional, itu namanya ekosistem dan kehidupan robotik. Mudah-mudahan ini menjadi penanda terus bagi kemajuan lembaga pendidikan Muhammadiyah untuk umat, untuk bangsa, dan untuk kemanusiaan semesta,” pungkas Haedar.
