Kabar Persyarikatan

Haedar Nashir Ungkap Pemikiran Tauhid Kiai Dahlan Terinspirasi Kitab Risalah Tauhid Muhammad Abduh

Redaksi Baturmu
6 November 20263 Menit
Haedar Nashir Ungkap Pemikiran Tauhid Kiai Dahlan Terinspirasi Kitab Risalah Tauhid Muhammad Abduh

BATURMU.COM, SURABAYA — Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, menyampaikan bahwa penelusuran terhadap jejak pemikiran KH Ahmad Dahlan belum menemukan rujukan pada Kitabut Tauhid karya Muhammad Ibn Abdul Wahab. Pemikiran tauhid murni yang dibangun pendiri Muhammadiyah tersebut justru lebih banyak dipengaruhi oleh gagasan pembaharuan yang rasional.

Meskipun pemahaman tauhid murni Muhammadiyah sering dikaitkan oleh sebagian pihak dengan pemikiran kelompok Wahabi, Haedar menegaskan bahwa secara literatur, karya Muhammad Ibn Wahab tidak ditemukan dalam rujukan utama Kiai Dahlan.

"Memang sangat dikenal dilekatkan dengan Ibnu Wahab, buku tentang Kitabut Tauhid. Tapi kayaknya saya tidak menemukan rujukan Kiai Dahlan ke buku ini atau kitab ini," ujar Haedar dalam acara Pembukaan Munas Tarjih di Universitas Muhammadiyah Surabaya, Kamis (4/11).

Lebih lanjut, Haedar menjelaskan dari tinjauan sejarah bahwa gerakan pemurnian tauhid yang memiliki keterikatan dengan gerakan Wahabi sebenarnya lebih terlihat pada Gerakan Padri di Sumatra Barat. Gerakan tersebut melahirkan tokoh-tokoh penting seperti Haji Rasul (ayah Buya Hamka), Buya Hamka sendiri, hingga generasi penerus Muhammadiyah di wilayah tersebut.

Sebaliknya, jejak pemikiran tauhid murni di Yogyakarta pada masa awal hadirnya Muhammadiyah menunjukkan karakter yang berbeda. Kiai Dahlan lebih banyak menyerap pemikiran dari pengagum pembaharuan Islam asal Mesir, Muhammad Abduh.

"Tapi di Yogyakarta saya tidak menemukan atau belum menemukannya. Lalu yang paling kuat adalah Kitab Risalah Tauhidnya Abduh, di mana dimensi akidah dibawa dengan ilmu pengetahuan dan rasionalitas," ungkap Haedar.

Melalui rujukan Kitab Risalah Tauhid karya Muhammad Abduh tersebut, pemahaman akidah yang dikembangkan oleh Kiai Dahlan tidak hanya berfokus pada pemurnian ajaran, tetapi juga mengintegrasikan dimensi keimanan dengan pendekatan rasional dan ilmu pengetahuan modern.

Bagikan berita ini: