Kabar Persyarikatan

Dadang Kahmad Tekankan Tiga Batasan Utama Agar Kebudayaan Berjalan Seiring Nilai Islam

Redaksi Baturmu
5 Oktober 20264 Menit
Dadang Kahmad Tekankan Tiga Batasan Utama agar Kebudayaan Berjalan Seiring Nilai Islam

BATURMU.COM, JAKARTA — Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Dadang Kahmad, menegaskan bahwa Islam tidak bersikap anti terhadap kebudayaan. Meski demikian, keterlibatan umat Islam dalam mengekspresikan seni dan tradisi harus tetap berpijak pada nilai-nilai keagamaan agar tidak melenceng dari ajaran agama.

Isu ini kembali hangat diperbincangkan menyusul kontroversi sebuah festival di Pekalongan, Jawa Tengah. Acara yang semula dirancang sebagai rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan khitanan massal ke-61 itu menuai kritik publik lantaran menampilkan pertunjukan yang dinilai bernuansa mistis dan menyerupai ritual satanis.

Menanggapi fenomena tersebut dalam program Catatan Akhir Pekan yang disiarkan di kanal YouTube TVMu, Dadang menjelaskan bahwa hubungan Islam dengan kebudayaan lokal pada dasarnya membuka ruang untuk dialog, evaluasi, hingga pembaharuan.

Dalam pandangan Muhammadiyah, kebudayaan tidak harus diterima atau ditolak secara mentah-mentah. Menurut Dadang, ada tiga koridor utama yang wajib menjadi batas pertimbangan umat Islam dalam berbudaya, yakni tidak melanggar akidah, tidak mengganggu ibadah, dan tidak merusak akhlak.

"Kita sebagai orang Islam harus bisa menyeleksi apakah kebudayaan itu tidak melanggar akidah Islam. Contohnya yang melanggar adalah melakukan kebudayaan yang syirik atau percaya kepada Tuhan selain Allah," ujar Dadang.

Ia menegaskan, apabila sebuah acara kebudayaan terbukti menodai akidah—seperti memuat unsur pemujaan atau penggunaan simbol-simbol setan—maka umat Islam harus memiliki benteng diri untuk tidak mengikutinya.

Meski begitu, Dadang mengimbau agar respons terhadap fenomena kebudayaan yang bermasalah tidak sekadar berhenti pada penolakan. Islam juga hadir memberikan edukasi dan solusi agar masyarakat tetap dapat berekspresi secara positif.

Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah menghadirkan tradisi alternatif yang kreatif dan tidak bertentangan dengan prinsip Islam. Kedua, mengedepankan dialog yang baik agar dakwah dapat diterima tanpa memicu pertentangan. Langkah ketiga adalah melakukan diskusi mendalam dan tindakan korektif jika kemungkaran tetap terjadi, sesuai dengan petunjuk Rasulullah SAW.

"Artinya kita harus menciptakan sesuatu tradisi yang tidak melanggar akidah Islam, tidak melanggar ibadah, dan tidak merusak akhlak. Namun jika tidak ditemukan jalan melalui ketiga cara itu, kita boleh untuk tidak ikut terjun atau tidak setuju," jelasnya.

Menutup pemaparannya, Dadang mendorong generasi muda Muhammadiyah untuk mengambil peran aktif dalam menjawab tantangan zaman. Ia mengajak anak muda untuk tidak ragu menciptakan karya seni dan kebudayaan baru yang relevan, namun tetap berakar kuat pada nilai-nilai Islam.

"Ciptakanlah kreasi-kreasi baru yang menjawab kebutuhan zaman dan kebutuhan kesenian kita. Tapi juga jangan berorientasi terlalu jauh," pungkas Dadang.
Bagikan berita ini: