Bambang Setiaji Tekankan Pentingnya Reformasi Aset Ekonomi Demi Sediakan Lapangan Kerja Layak

BATURMU.COM, SURAKARTA — Ketua Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Bambang Setiaji, membeberkan bahwa tantangan terbesar yang dihadapi generasi muda saat ini adalah minimnya ketersediaan lapangan kerja yang layak, khususnya bagi para lulusan sarjana (S1).
Hal tersebut disampaikan Bambang di hadapan mahasiswa Perguruan Tinggi Muhammadiyah-’Aisyiyah (PTMA) dalam acara Silaturahmi Nasional (Silatnas) BEM PTMA yang berlangsung di Kampus Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Rabu (30/10). Ia menilai ketimpangan tajam dalam penguasaan aset ekonomi di Indonesia menjadi hambatan utama dalam penyediaan lapangan kerja yang memadai.
“Saya kira tantangan adik-adik yang sangat besar adalah kurangnya pekerjaan yang layak. Nanti kalau sudah lulus baru merasa di negara kita ini,” ujar Bambang.
Bambang menjelaskan, meski pekerjaan di sektor informal melimpah, lapangan kerja yang benar-benar layak dan memberikan martabat bagi lulusan S1 masih sangat terbatas. Situasi saat ini menjadi sinyal peringatan akan sulitnya mencetak wirausahawan baru yang memiliki bisnis berkualitas untuk menampung para pencari kerja.
Dalam hitungannya, Indonesia membutuhkan setidaknya 16 juta pengusaha untuk menjawab kebutuhan 160 juta lapangan pekerjaan. Estimasi ini didasarkan pada kondisi dunia usaha nasional yang didominasi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), di mana tiap unit usaha rata-rata mampu menyerap 10 tenaga kerja.
Lebih lanjut, Bambang menyoroti data ketimpangan penguasaan aset ekonomi nasional. Saat ini, sebanyak 60 persen aset di Indonesia hanya dikuasai oleh 1 persen kelompok elit, sementara 40 persen sisa aset diperebutkan oleh mayoritas masyarakat.
Oleh karena itu, ia mendorong para mahasiswa untuk mengambil langkah nyata dalam mendorong pembukaan lapangan kerja sekaligus menyuarakan reformasi redistribusi aset ekonomi agar lebih merata.
“Mereformasi aset-aset ekonomi yang terkonsentrasi itu supaya terjadi suatu pemerataan sehingga 16 juta perusahaan yang bagus, yang memberi rakyat Indonesia itu tempat kerja yang bermartabat,” pungkasnya.
