Wamen Dikdasmen Tegaskan Peran PTMA sebagai Rumah Intelektual dan Tenda Bangsa

BATURMU.COM, SURAKARTA — Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamen Dikdasmen) Republik Indonesia, Fajar Riza Ul Haq, menekankan pentingnya peran Perguruan Tinggi Muhammadiyah 'Aisyiyah (PTMA) dalam merawat kebebasan akademik dan melestarikan tradisi kaderisasi. Menurutnya, budaya akademik yang mengakar kuat serta sistem pengelolaan yang kokoh menjadi kunci utama kemajuan perguruan tinggi Muhammadiyah saat ini.
Hal tersebut disampaikan Fajar saat menyampaikan orasi ilmiah dalam peringatan Milad ke-68 Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) yang berlangsung di Edutorium KH Ahmad Dahlan UMS, Sabtu (24/10). Dalam momentum tersebut, ia turut memberikan apresiasi atas capaian UMS yang berhasil menempatkan diri sebagai salah satu perguruan tinggi swasta terbaik di Indonesia.
Sebagai alumnus UMS angkatan 1998, Fajar menilai keberhasilan PTMA tak lepas dari konsistensinya dalam menjaga iklim kebebasan akademik. Ruang-ruang diskusi yang terbuka dan inklusif dinilai amat krusial untuk menumbuhkan pemikiran yang kritis dan demokratis di lingkungan kampus.
“Kebebasan akademik inilah yang meniscayakan tumbuhnya ruang-ruang berpikir yang berbeda, serta dialektika pemikiran yang demokratis. Kampus ini mempunyai tradisi intelektual yang kuat yang ditopang oleh budaya akademik yang kokoh, didukung oleh kepemilikan kampus yang inklusif dan tata kelola yang terbuka,” terang Fajar.
Ia juga membagikan pengalamannya saat menempuh studi di UMS, di mana ia menyaksikan secara langsung bagaimana komitmen kampus terhadap proses kaderisasi berjalan selaras dengan pembangunan infrastruktur fisik. Penataan fasilitas dan gedung-gedung kampus di UMS, menurutnya, dirancang secara berkelanjutan untuk mendukung aktivitas akademis civitas akademika sekaligus menjaga memori kolektif institusi dari masa ke masa.
Menutup orasinya, Fajar berharap Muhammadiyah dapat terus memelihara tradisi keilmuan yang teruji. Cita-cita ini sejalan dengan pandangan para tokoh Muhammadiyah, seperti almarhum Buya Syafii Maarif dan Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir, yang menginginkan Muhammadiyah hadir sebagai "Tenda Bangsa"—sebuah rumah besar yang mengayomi seluruh lapisan masyarakat.
“Kita ingin Muhammadiyah menjadi rumah besar, menjadi tenda bangsa. Maka secara mikro institusi kampus harus menjadi rumah intelektual, menjadi laboratorium pemikiran-pemikiran yang dinamika pemikiran itu tidak dibiarkan terpolarisasi tetapi dikelola secara baik oleh staf dan pimpinan universitas,” pungkasnya.
