Haedar Nashir Ingatkan Peran Strategis Guru sebagai Pendidik Karakter dan Penjaga Peradaban

BATURMU.COM, SURAKARTA — Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, menyampaikan sejumlah pesan penting bagi para tenaga pendidik dalam Silaturahmi Forum Guru Muhammadiyah. Kegiatan yang berlangsung di Edutorium Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ini diselenggarakan dalam rangka memperingati Milad ke-114 Muhammadiyah sekaligus menyambut Hari Guru Nasional.
Pertemuan tersebut menjadi momentum berharga untuk mempererat tali silaturahmi sekaligus memompa semangat kolektif para guru dalam mengemban tugas mulia di tengah berbagai tantangan zaman. Dalam pengarahannya, Haedar menekankan kembali hakikat mendasar dari profesi guru yang tidak hanya sebatas mentransfer ilmu pengetahuan di ruang kelas.
Mengutip adagium klasik Jawa bahwa guru adalah sosok yang digugu lan ditiru (dipercaya dan ditiru), Haedar menegaskan bahwa profesi ini menuntut penguasaan keilmuan yang dilandasi oleh panggilan jiwa untuk mendidik generasi bangsa.
"Menjadi guru selain menjadi sosok yang mentransfer ilmu dan pengalaman bagi seluruh anak didik sekaligus juga menjadi pendidik yang membentuk karakter dan menampilkan uswah atau keteladanan bagi para siswa atau murid," ujar Haedar.
Menghadapi dinamika dunia pendidikan yang terus berkembang, Haedar merinci tiga pesan utama yang perlu dijadikan pedoman oleh para guru dalam menjalankan pengabdiannya:
Pertama, menjaga komitmen dan integritas. Tanggung jawab pengajar tidak berhenti saat materi pembelajaran selesai disampaikan. Guru memiliki peran vital dalam membentuk karakter serta menjadi teladan nyata dalam kehidupan sehari-hari muridnya.
Kedua, meningkatkan kompetensi dan keahlian secara berkelanjutan. Kualitas pendidikan sebuah lembaga sangat ditentukan oleh kapasitas para pengajarnya. Di tengah arus persaingan yang semakin ketat, peningkatan kualitas guru menjadi faktor kunci keberhasilan dan kemajuan institusi sekolah.
"Dengan peningkatan kualitas, maka insyaallah institusi pendidikannya ikut naik. Karena di saat sekarang ini ketika persaingan makin tinggi, maka pertarungannya ada pada guru sebagai aktor pendidik," jelas Haedar.
Ketiga, merawat idealisme dan semangat perjuangan. Sebutan pahlawan tanpa tanda jasa hendaknya diwujudkan melalui ketulusan dan keteguhan hati. Ia mengingatkan para pendidik untuk tidak terjebak dalam membandingkan profesinya dengan bidang pekerjaan lain, terutama bagi mereka yang mengabdi di wilayah terpencil dengan fasilitas terbatas.
Haedar berharap melalui penguatan integritas, kompetensi, dan idealisme ini, proses pembelajaran di sekolah tidak hanya berorientasi pada nilai akademik semata. Pendidikan harus mampu menghadirkan ruang belajar yang humanis dan kondusif bagi tumbuh kembang anak didik.
"Karena guru adalah buku-buku yang hidup, buku yang berjalan dan buku yang menjadi teladan," tegasnya.
Menutup amanatnya, Haedar juga mengimbau seluruh guru Muhammadiyah agar senantiasa menjadikan pemahaman agama, ideologi, serta sistem gerakan Persyarikatan sebagai pijakan utama dalam mendidik. Hal ini penting agar seluruh aktivitas pembelajaran tetap sejalan dengan cita-cita dan arah perjuangan Muhammadiyah.
