Menjaga Hati dan Kenali Diri Jadi Kunci Hadapi Era Digital di Pengajian PP Muhammadiyah

BATURMU.COM, YOGYAKARTA — Pesatnya arus informasi dan cepatnya dinamika di era digital menuntut setiap individu untuk senantiasa menjaga kejernihan hati, mengenali kapasitas diri, serta memegang teguh kendali diri. Pesan penting tersebut mengemuka dalam kegiatan Pengajian Semarak Milad ke-114 yang digelar di Kantor Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Yogyakarta, Sabtu (7/11).
Kegiatan yang diikuti oleh seluruh staf dan jajaran pegawai Kantor PP Muhammadiyah Yogyakarta ini turut dihadiri oleh Ketua PP Muhammadiyah dr. Agus Taufiqurrahman serta Sekretaris PP Muhammadiyah Muhammad Sayuti. Adapun tausiah utama disampaikan oleh Ustaz Irfan Rizki Haas.
Dalam pemaparannya, Ustaz Irfan menyoroti maraknya pemberitaan negatif di era modern yang kerap memicu rasa cemas hingga rasa ingin menyerah. Namun, ia mengingatkan bahwa seorang mukmin dilarang keras untuk berputus asa.
“Dalam Al-Qur’an Surah Az-Zumar ayat 53 menyebutkan agar umat Islam tidak pernah berputus asa dari rahmat Allah SWT,” ujar Ustaz Irfan.
Untuk mengarungi zaman yang serba instan ini, Ustaz Irfan membagikan tiga landasan utama yang harus dipegang teguh oleh setiap insan.
Landasan pertama adalah menjaga kebersihan hati atau qalbin salim. Hati merupakan penentu utama dari seluruh amalan manusia. Merujuk pada hadis Nabi Muhammad SAW, ia menjelaskan bahwa baik atau buruknya jasad seseorang sangat bergantung pada kondisi segumpal daging di dalam tubuhnya, yaitu hati.
“Karena saat menghadap kepada Allah kelak di hari kiamat tidak akan lagi diukur dari seberapa banyak harta atau anak keturunan, melainkan dari membawa hati yang selamat (qalbin salim),” jelasnya.
Landasan kedua adalah kesadaran diri atau syakilah. Menukil Surah Al-Isra ayat 84, Ustaz Irfan menyampaikan bahwa setiap manusia diciptakan dengan potensi, kegemaran, dan peran pengabdian yang berbeda-beda. Kesadaran ini penting agar seseorang mampu beradaptasi dan menempatkan diri dengan baik di mana pun ia berada.
“Menyadari siapa diri kita, apa kapasitas kita, dan di mana medan pengabdian kita jauh lebih penting daripada sekadar ambisi menjadi apa,” tegasnya.
Landasan ketiga adalah kemampuan mengendalikan diri. Di era digital saat ini, ketika informasi dan komentar dapat disebarkan hanya dalam hitungan detik, kemampuan menahan diri, bersabar, serta menyaring setiap tindakan dari dorongan hawa nafsu menjadi kunci utama keselamatan hidup.
“Kadang-kadang enggak semua mesti diutarakan, sabar, ikhlas, dengan Allah itulah akan dijadikan bagian dari perjalanan,” pungkas Ustaz Irfan.
