Tiga Pilar Utama untuk Memahami Muhammadiyah Secara Utuh Menurut Haedar Nashir

BATURMU.COM, YOGYAKARTA — Warga Persyarikatan diimbau untuk memahami Muhammadiyah secara menyeluruh melalui tiga aspek mendasar, yakni pemahaman agama, ideologi, serta sistem gerakan. Ketiga pilar ini menjadi landasan utama yang membentuk karakter, arah perjuangan, dan keberlanjutan Muhammadiyah sebagai gerakan Islam.
Hal tersebut ditegaskan oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, saat menyampaikan materi Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah (MADM) dan Spirit Budaya Berorganisasi dalam agenda Baitul Arqam Dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).
Haedar menyebut kegiatan Baitul Arqam sebagai sarana penting untuk menyegarkan kembali pemahaman ke-Muhammadiyahan, baik bagi kader senior maupun warga yang baru bergabung. Menurutnya, pemahaman dan pengetahuan dapat memudar seiring berjalannya waktu jika tidak terus diperbarui.
Ia menganalogikan Muhammadiyah seperti sebuah bangunan yang perlu dipahami secara utuh, mulai dari fondasi, struktur, hingga komponen-komponen pembentuknya. Dengan begitu, warga Persyarikatan tidak hanya mengenal Muhammadiyah dari sekadar aktivitas atau amal usahanya, tetapi juga memahami dasar pemikiran dan sistem penopangnya.
"Kalau saya ingin sama-sama kenali tiga: satu paham agamanya, kedua ideologinya, ketiga sistem gerakan," ujar Haedar.
Mengenai aspek pertama, yaitu paham agama, Haedar menjelaskan bahwa Muhammadiyah merupakan gerakan Islam modern yang bersikap moderat. Berlandaskan Al-Qur'an dan Sunnah, Muhammadiyah membuka ruang bagi ijtihad untuk melahirkan pemikiran keagamaan yang terbuka, rasional, dan progresif dalam menjawab tantangan zaman.
Sikap moderat tersebut tecermin dari metode dakwah yang santun, edukatif, dan dialogis. Dalam memahami Islam, Muhammadiyah memadukan tiga pendekatan secara proporsional, yaitu bayani (berdasarkan teks atau dalil), burhani (penalaran rasional), dan irfani (dimensi spiritual dan kebersihan hati).
Pemahaman keagamaan ini tidak berhenti pada ibadah individual, melainkan diwujudkan dalam aksi nyata yang memberi manfaat bagi masyarakat. Haedar mencontohkan bagaimana spirit Surah Al-Ma'un menjadi dasar teologis yang melahirkan berbagai amal usaha di bidang pendidikan, kesehatan, dan pelayanan sosial.
"Amal usaha itu lahir dari paham keagamaan, seperti juga rumah sakit lahir dari Al-Ma’un," tegasnya.
Memasuki aspek kedua, yaitu ideologi, Haedar menguraikan bahwa ideologi adalah sistem pemikiran yang memuat pandangan, cita-cita, dan arah perjuangan gerakan. Dalam Muhammadiyah, kerangka ini tertuang dalam Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah (MADM).
"Ideologi Muhammadiyah itu tentu Islam, ideologi Islam berkemajuan," sebut Haedar.
Ia menambahkan bahwa MADM memuat nilai-nilai prinsipil, seperti kehidupan berlandaskan tauhid, pentingnya bermasyarakat, hingga tanggung jawab memakmurkan bumi dengan ilmu pengetahuan dan akhlak mulia. Haedar juga menegaskan posisi Muhammadiyah sebagai gerakan keagamaan dan kemasyarakatan, bukan organisasi politik. Meski tidak terlibat dalam politik praktis, Muhammadiyah tetap bersikap terbuka untuk berkolaborasi dengan pemerintah maupun pihak lain demi kemajuan bangsa, tanpa kehilangan sikap kritis yang konstruktif.
Adapun aspek ketiga adalah sistem gerakan. Muhammadiyah memiliki struktur organisasi yang terpusat dan teratur, sehingga seluruh institusi dan amal usaha dari daerah hingga pusat bergerak dalam satu kesatuan.
Kekuatan sistem inilah yang membuat Muhammadiyah mampu bertahan dan berkembang melintasi zaman. Keberlanjutan organisasi bertumpu pada mekanisme dan nilai-nilai bersama, bukan pada figur individu tertentu.
Sistem yang sehat ini juga menciptakan mekanisme kepemimpinan yang tertib, sekaligus membangun budaya organisasi di mana setiap kader tetap dapat berkontribusi bagi masyarakat meskipun tidak lagi memegang jabatan struktural.
Haedar pun mengajak seluruh elemen Persyarikatan untuk terus menjaga dan memperkuat sistem gerakan ini agar memberikan kemanfaatan yang semakin luas.
"Sistem ini harus kita jaga dan lebih dari itu harus dibesarkan lagi, supaya Muhammadiyah bisa bermanfaat untuk umat, untuk bangsa, dan untuk kemanusiaan," pungkasnya.
