Sikapi Fenomena Agnostisisme, Muhammadiyah Tegaskan Pentingnya Fondasi Akidah dan Ketuhanan

BATURMU.COM, YOGYAKARTA — Di tengah pesatnya arus globalisasi dan perkembangan zaman, pandangan masyarakat terhadap keberadaan Tuhan terus mengalami dinamika. Indonesia sebagai negara yang berasaskan Pancasila menempatkan Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai nilai fundamental dalam kehidupan berbangsa. Meski demikian, fenomena agnostisisme mulai bermunculan sebagai salah satu tantangan pemikiran di era modern.
Secara etimologis, agnostisisme berasal dari bahasa Yunani, yaitu a (tidak) dan gnosis (pengetahuan). Berbeda dengan ateisme, agnostisisme merujuk pada pandangan bahwa keberadaan Tuhan atau realitas tertinggi tidak dapat diketahui secara pasti karena adanya keterbatasan pada pengetahuan manusia. Istilah ini pertama kali dipopulerkan oleh Thomas Henry Huxley di Eropa pada 1869, seiring menguatnya pendekatan empiris dan rasional dalam memahami realitas.
Menanggapi berkembangnya fenomena tersebut, Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Syamsul Anwar, menjelaskan bahwa perkembangan spiritualitas manusia sepanjang sejarah memang tidak bergerak secara lurus, melainkan berfluktuasi dari waktu ke waktu.
“Pada suatu saat orang bisa rindu kepada agama, di saat lain orang juga bisa bosan kepada agama. Jadi berbelok-belok sejak dari zaman dulu,” ungkap Syamsul dalam konferensi pers menjelang Musyawarah Nasional (Munas) Majelis Tarjih Muhammadiyah, Senin (2/11).
Ia memaparkan pergeseran hubungan manusia dengan agama dari sudut pandang sejarah peradaban. Dominasi agama yang kuat pada Abad Pertengahan di Eropa beralih ke pendekatan rasional dan sekuler pada era Renaisans. Namun memasuki abad ke-21, terdapat potensi kebangkitan kembali agama di tengah masyarakat modern, sebagaimana dibahas dalam berbagai literatur seperti The Return of God Hypothesis.
Di tengah berbagai dinamika pemikiran tersebut, Syamsul mengajak masyarakat untuk tetap teguh menjadikan nilai-nilai ketuhanan sebagai fondasi utama berbangsa dan bernegara, sejalan dengan sila pertama Pancasila.
“Bagi masyarakat seperti orang-orang Muhammadiyah, kepercayaan kepada Tuhan itu adalah penting. Apalagi kita bangsa Indonesia, sila yang pertama adalah Ketuhanan Yang Maha Esa dan ini mengimplikasikan bahwa bangsa kita percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa,” tegasnya.
Sebagai upaya nyata memperkuat pemahaman keimanan umat menghadapi tantangan zaman, Muhammadiyah melalui Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah tengah merumuskan Risalah Akidah Islam. Panduan ini disusun untuk memperjelas prinsip-prinsip akidah yang mendasar sekaligus memisahkan persoalan prinsip dari hal-hal yang masih membuka ruang perbedaan pendapat di kalangan ulama.
Risalah Akidah Islam tersebut rencananya akan dimatangkan dan menjadi bahasan utama dalam Musyawarah Nasional (Munas) Tarjih ke-XXXIII yang akan berlangsung di Surabaya pada 5–7 November 2026 mendatang. Melalui langkah ini, Muhammadiyah berharap dapat membekali umat dengan pemahaman keimanan yang mendalam dan argumentasi yang kokoh dalam menyikapi keragaman pemikiran keagamaan.
