Kabar Persyarikatan

Pesan Aly Aulia: Jangan Tunda Kebaikan, Jadikan Aktivitas Dunia sebagai Ladang Akhirat

Redaksi Baturmu
13 Oktober 20266 Menit
Pesan Aly Aulia: Jangan Tunda Kebaikan, Jadikan Aktivitas Dunia Sebagai Ladang Akhirat

BATURMU.COM, YOGYAKARTA — Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Aly Aulia, mengimbau umat Islam agar tidak terlalu larut dalam kesibukan mengejar urusan duniawi hingga melupakan persiapan menuju kehidupan akhirat. Ia menekankan pentingnya melandasi setiap pekerjaan, usaha, maupun tanggung jawab keluarga dengan niat ibadah agar bernilai bekal di akhirat kelak.

Pesan tersebut disampaikan Aly saat mengisi kajian sore di Masjid KH Sudja, Yogyakarta, pada Senin (12/10). Dalam ceramahnya, ia mengajak jamaah melakukan refleksi diri dengan mengevaluasi sejauh mana usaha yang telah dilakukan untuk mengejar dunia dibandingkan kesiapan menghadapi kematian.

Aly mengingatkan bahwa takdir kematian tidak memandang urutan usia. Oleh karena itu, kesempatan dan waktu yang masih dimiliki saat ini hendaknya dimanfaatkan secara optimal untuk memperbaiki kualitas amal serta menjaga konsistensi dalam beribadah.

“Kita sudah berapa jauh berlari untuk mengejar dunia? Tapi pertanyaannya juga, sudah berapa dekat kita mempersiapkan diri untuk kita pulang di hadapan Allah Subhanahu wa taala,” ujar Aly.

Menurut Aly, berbagai rutinitas harian seperti bekerja mencari nafkah, membahagiakan keluarga, membangun bisnis, hingga mengukir prestasi merupakan bentuk aktivitas yang berpotensi bernilai ibadah. Syarat utamanya adalah dijalankan dengan keikhlasan, ilmu yang benar, dan sikap istiqamah.

Ia menekankan bahwa memiliki orientasi akhirat tidak berarti seseorang harus meninggalkan pekerjaan atau tanggung jawab sosialnya. Sebaliknya, seluruh rutinitas duniawi perlu diarahkan sedemikian rupa agar mendatangkan ridha dan pahala dari Allah SWT.

Dalam kajian tersebut, Aly mengutip firman Allah dalam Surah al-An’am ayat 162 yang menegaskan bahwa ibadah salat, pelaksanaan ritual, kehidupan, dan kematian seorang Muslim sepenuhnya dipersembahkan hanya kepada Allah, Tuhan semesta alam. Menurutnya, prinsip ini menjadi landasan utama untuk mengubah setiap aktivitas harian—baik tugas profesional maupun urusan rumah tangga—menjadi sarana mendekatkan diri kepada-Nya.

Jangan Menunda-nunda Kebaikan

Lebih lanjut, Aly menyoroti salah satu kecenderungan masyarakat modern, yakni kebiasaan menunda ibadah dan perbuatan baik sampai merasa memiliki waktu luang. Tidak sedikit orang yang beralasan menunggu kariernya stabil baru rajin mengaji, menunggu masa pensiun untuk aktif memakmurkan masjid, atau menunggu kaya sebelum memperbanyak sedekah.

Padahal, tidak ada jaminan bahwa seseorang bakal mencapai usia tua atau berkesempatan mewujudkan rencana-rencana tersebut.

“Jangan menunggu. Kita harus benar-benar belajar mendekat kepada Allah di tengah kesibukan hidup kita,” tegasnya.

Aly memaparkan bahwa setiap jenjang kehidupan memiliki tantangannya masing-masing. Kerja keras dan cita-cita tinggi pada dasarnya bukan hal yang dilarang, melainkan menjadi persoalan ketika kesibukan tersebut membuat seseorang kehilangan arah serta melupakan tujuan utama hidupnya.

Ia memberi contoh situasi di mana seseorang berhasil meraih kemapanan materi dan fasilitas hidup yang baik, namun kehilangan momen kebersamaan dengan keluarga karena jadwal kerja yang terlampau padat. Oleh karena itu, Aly mengajak jamaah untuk meninjau kembali arti keberhasilan secara bijak, yakni turut mengukurnya dari kemanfaatan bagi sesama serta kualitas hubungan dengan Allah SWT.

Selain teliti dalam perencanaan finansial, evaluasi diri (muhasabah) secara spiritual juga sangat penting dilakukan secara menyeluruh untuk mengukur perbaikan akhlak, keimanan, dan dampak kehadiran seseorang bagi lingkungan sekitarnya.

Dunia Sebagai Ladang Akhirat

Aly menegaskan bahwa ajaran Islam tidak pernah meminta pemeluknya untuk menjauhi kehidupan dunia. Dunia justru merupakan tempat untuk menanam benih amal saleh yang hasilnya akan dipetik di kehidupan akhirat.

Ia mengingatkan bahwa tolok ukur kesuksesan tidak semata-mata dilihat dari seberapa banyak harta yang terkumpul, melainkan bagaimana potensi dan rezeki tersebut dimanfaatkan untuk kebaikan. Bekerja secara jujur, mencari rezeki halal, mendidik anak, membantu tetangga, berbagi kepada sesama, serta menjaga kelestarian lingkungan adalah bagian dari wujud amal kebajikan.

Aly juga menggarisbawahi pentingnya menjaga keseimbangan pada tiga dimensi hubungan, yaitu hubungan dengan Allah (hablum minallah), hubungan dengan sesama manusia (hablum minannas), dan hubungan dengan alam sekitar.

Menutup kajiannya, ia mengingatkan hadis Rasulullah SAW mengenai tiga amalan yang pahalanya terus mengalir meskipun seseorang telah wafat, yaitu sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, dan doa dari anak yang saleh. Ia berpesan agar umat Islam memandang ibadah secara luas dan senantiasa meluruskan niat dalam setiap kegiatan harian.

“Jangan buru-buru meninggalkan kesibukan. Periksa dulu arahnya benar atau tidak,” pungkasnya.
Bagikan berita ini: