Kabar Persyarikatan

Menjadikan Tauhid sebagai Fondasi Utama dalam Keluarga dan Pekerjaan

Redaksi Baturmu
13 Oktober 20264 Menit
Menjadikan Tauhid sebagai Fondasi Utama dalam Keluarga dan Pekerjaan

BATURMU.COM, YOGYAKARTA — Tauhid tidak boleh hanya berhenti sebagai topik pembahasan dalam kajian keagamaan, melainkan harus menjadi landasan utama dalam seluruh dimensi kehidupan seorang muslim. Keyakinan kepada Allah SWT hendaknya tercermin secara nyata dalam tindakan dan pengambilan keputusan sehari-hari, mulai dari membina rumah tangga, mendidik anak, hingga menjalankan pekerjaan.

Pesan tersebut ditegaskan oleh Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Talqis Nurdianto, dalam kajian Mukadimah Anggaran Dasar Muhammadiyah (MADM) yang berlangsung di Masjid KH Sudja, Yogyakarta, Kamis (08/10). Dalam pemaparannya, ia menekankan pentingnya membawa nilai-nilai tauhid ke dalam berbagai ruang kehidupan sosial.

Talqis mengingatkan bahwa harta benda serta jabatan memiliki batas waktu, sedangkan pengabdian kepada Allah berlangsung sepanjang hayat. Oleh sebab itu, kesibukan dalam bekerja maupun berorganisasi tidak boleh mengikis niat dan keikhlasan dalam beramal.

“Jangan sampai kita sibuk mengurus organisasi namun lupa mengurus keikhlasan,” ujar Talqis.

Dalam lingkup keluarga, nilai tauhid juga harus menjadi warisan utama yang ditanamkan orang tua kepada anak-anaknya. Menurutnya, kewajiban orang tua tidak sekadar menyediakan tempat tinggal secara fisik, melainkan juga menghidupkan suasana rumah dengan ibadah dan pendidikan agama.

“Tidak hanya memberi rumah, ‘Nak, nanti kamu tinggal di rumah ini.’ Ya, tidak hanya seperti itu. Tidak hanya meninggalkan ini, dirawat dijaga. Tidak hanya seperti itu, tapi kemudian terangilah rumah ini dengan tilawah dan salatmu dan keluargamu,” tutur Talqis.

Ia pun mendorong para orang tua untuk membiasakan kegiatan keagamaan di rumah, seperti salat berjamaah, mengaji, dan mengadakan pengajian keluarga agar rumah dapat menjadi ruang tumbuh bagi nilai-nilai Islam sekaligus media dakwah di internal keluarga.

Mengelola Emosi dan Menghadapi Ujian Kehidupan

Selain dalam pengasuhan, penerapan tauhid diuji saat keluarga menghadapi berbagai persoalan hidup, seperti masalah ekonomi, kesehatan, hingga perbedaan pendapat antaranggota keluarga. Ketika amarah muncul, tauhid mengajarkan seseorang untuk menahan diri dan ingat kepada Allah agar tidak mengambil tindakan yang merugikan pasangan maupun anak-anak.

Dalam hal mendidik anak, Talqis menekankan pentingnya sikap bijaksana. Meluapkan emosi atau menuduh anak secara sepihak saat terjadi masalah di rumah hanya akan membuat anak merasa terintimidasi dan enggan bersikap terbuka.

“Maka respons tauhid adalah mendidik dengan hikmah, bukan melampiaskan emosi,” tegasnya.

Prinsip tauhid juga menjadi panduan utama saat keluarga diterpa kesulitan ekonomi. Talqis mengingatkan agar tekanan kebutuhan hidup tidak mendorong seseorang menempuh cara-cara yang dilarang agama, seperti praktik kesyirikan.

Ia menjelaskan bahwa bekerja merupakan bentuk ikhtiar manusia dalam menjemput rezeki, sedangkan hasil akhirnya sepenuhnya berada dalam ketetapan Allah. Oleh karena itu, umat Islam diimbau untuk berusaha secara jujur dan menghindari perbuatan yang mengundang murka Allah, seperti korupsi, penipuan, riba, dan sumpah palsu.

“Pekerjaan adalah ikhtiar. Allah adalah pemberi rezekinya. Kita berusaha, Allah menentukan hasilnya,” jelasnya.

Di samping itu, ia mengajak umat Islam untuk memandang rezeki secara lebih luas. Rezeki tidak terbatas pada harta dan makanan, tetapi juga mencakup nikmat kesehatan, ketenangan jiwa, kerukunan, serta rasa aman dalam kehidupan sehari-hari.

“Apapun aktivitas kita jangan tinggalkan Allah. Ikut sertakan Allah dalam kegiatan kita,” tutup Talqis.
Bagikan berita ini: