Kabar Persyarikatan

Peran Ayah Tak Sekadar Mencari Nafkah, Kehadiran dan Keteladanan Sangat Dibutuhkan Anak

Redaksi Baturmu
14 Oktober 20263 Menit
Peran Ayah Tak Sekadar Mencari Nafkah, Kehadiran dan Keteladanan Sangat Dibutuhkan Anak

BATURMU.COM, YOGYAKARTA — Kesibukan mencari nafkah sering kali dipandang sebagai bentuk tanggung jawab utama dalam keluarga. Namun, Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Aly Aulia, mengingatkan bahwa kerja keras tersebut harus diimbangi dengan kehadiran nyata dan keterlibatan emosional dalam kehidupan anak-anak.

Pesan tersebut disampaikan Aly saat mengisi kajian di Masjid KH Sudja, Yogyakarta, pada Senin (12/10). Ia menyoroti fenomena ketika peningkatan kesejahteraan ekonomi keluarga justru tidak diiringi dengan kedekatan hubungan antara orang tua dan anak.

Ia menggambarkan situasi saat fasilitas hidup semakin membaik, namun orang tua berangkat bekerja sebelum anak-anak terbangun dan kembali ke rumah setelah mereka tertidur. Bahkan ketika berada di rumah, pikiran orang tua kerap masih terserap oleh urusan pekerjaan.

“Sebetulnya nih kita sedang membangun kehidupan keluarga atau hanya sebetulnya menjadi ATM keluarga ini?” tutur Aly mengajak jemaah berefleksi.

Menurut Aly, pertanyaan ini penting sebagai bahan evaluasi agar kesibukan bekerja tidak justru memangkas kebahagiaan dan kesempatan untuk mendampingi keluarga. Ia juga menyinggung fenomena fatherless, yakni kondisi ketika anak memiliki sosok ayah secara finansial, tetapi tidak merasakan kehadiran, arahan, dan keteladanannya dalam keseharian.

Ia menekankan bahwa pemenuhan materi memang bernilai ibadah, namun mendidik dan mendampingi anak secara emosional merupakan amanah yang tak kalah penting. Al-Qur’an sendiri memberi perhatian besar pada pola komunikasi ini. Dari 17 ayat yang merekam dialog orang tua dan anak, sebanyak 14 di antaranya secara spesifik menampilkan komunikasi antara ayah dan anak, seperti kisah Nabi Ibrahim, Nabi Ya'qub, dan Luqman Al-Hakim.

Aly menambahkan bahwa warisan terpenting dari orang tua bukanlah sebatas harta atau aset fisik, melainkan nilai keimanan, kejujuran, dan akhlak mulia yang ditunjukkan lewat contoh nyata sehari-hari.

“Karena harta ayah mungkin saja terbatas, tapi nilai kebaikan yang ditanamkan terus bertumbuh,” jelas Aly.

Mengutip Surah Al-Baqarah ayat 133 tentang kisah Nabi Ya’qub yang memastikan ketauhidan anak-anaknya menjelang wafat, Aly mengingatkan bahwa perhatian utama orang tua harus tertuju pada keberlanjutan iman generasi penerus. Pembentukan karakter anak yang saleh juga menjadi bagian dari amal jariyah yang pahalanya terus mengalir bagi orang tua.

Ia mengimbau para orang tua untuk tidak menunda dalam memberikan perhatian dan pembinaan karakter di dalam rumah, seraya menyeimbangkan tanggung jawab kepada Allah, keluarga, dan lingkungan masyarakat.

Bagikan berita ini: