Kabar Persyarikatan

Pentingnya Kesalehan Sosial: Majelis Tabligh PP Muhammadiyah Ingatkan Akhlak Harus Sejalan dengan Ibadah

Redaksi Baturmu
5 November 20264 Menit
Pentingnya Kesalehan Sosial: Majelis Tabligh PP Muhammadiyah Ingatkan Akhlak Harus Sejalan dengan Ibadah

BATURMU.COM, YOGYAKARTA — Keberagamaan seseorang tidak cukup hanya ditunjukkan melalui ritual ibadah semata, melainkan harus tercermin nyata dalam perilaku dan akhlak sosial sehari-hari. Kesalehan personal semestinya berbanding lurus dengan kejujuran, keamanahan, kepedulian terhadap sesama, serta sikap saling menghormati.

Pesan tersebut ditegaskan oleh Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Talqis Nurdianto, dalam kajian keagamaan yang berlangsung di Masjid KH Sudja, Yogyakarta, pada Kamis (29/10). Dalam paparannya, Talqis menjelaskan bahwa Muhammadiyah telah memiliki infrastruktur dakwah yang sangat lengkap, mulai dari masjid, lembaga pendidikan, fasilitas kesehatan, lembaga amil zakat (Lazismu), hingga penanggulangan bencana (MDMC).

Menurutnya, seluruh potensi dakwah tersebut harus digerakkan secara beriringan agar mampu membawa perubahan perilaku pada masyarakat. Kegiatan pengajian dan proses pembelajaran di sekolah hendaknya tidak sekadar menjadi rutinitas transfer ilmu, melainkan mampu membentuk karakter peserta didik dan jamaah.

“Agama kita tumbuh secara kuantitas. Sekarang tugas kita adalah menumbuhkan secara kualitas. Bagaimana umat Islam yang sudah ada ini mampu mengimplementasikan nilai-nilai agama dalam perilakunya,” ujar Talqis.

Ia juga mengajak umat untuk melakukan muhasabah atau evaluasi diri secara mendalam pada tiga aspek utama: akidah, ibadah, dan akhlak. Pada aspek akidah, seorang muslim dituntut untuk murni menggantungkan harapan hanya kepada Allah SWT tanpa terjerumus pada praktik kesyirikan.

Sementara pada aspek ibadah, ibadah ritual seperti salat seharusnya berdampak positif pada integritas diri. Seseorang yang rajin beribadah dinilai perlu mengevaluasi kembali kualitas agamanya jika masih gemar mengambil hak orang lain, tidak jujur, atau mengingkari amanah.

Pada dimensi akhlak, Talqis memberikan perhatian khusus pada etika berkomunikasi, terutama di era digital. Ia mengingatkan agar media sosial tidak dijadikan sarana untuk saling mencela, menyindir, atau menyebarkan ujaran kebencian.

“Kalau kita berbicara, apakah orang lain merasa aman? Jangan sampai perkataan kita justru berisi ejekan, celaan, dan cemoohan,” tutur Talqis.

Di samping itu, ia mengimbau masyarakat untuk selalu menerapkan budaya tabayun atau verifikasi informasi sebelum membagikannya kepada publik. Ia juga mewanti-wanti agar perbedaan pilihan politik maupun organisasi tidak memutus tali persaudaraan sesama muslim.

Sebagai penutup, Talqis menekankan bahwa muara dari keberhasilan dakwah adalah terwujudnya kesejahteraan dan kemandirian masyarakat. Gerakan sosial dan pemberdayaan ekonomi harus berorientasi pada pengentasan kemiskinan, sehingga para penerima manfaat dapat bertransformasi menjadi pemberi manfaat.

“Bagaimana badan kita membantu orang menjadi mandiri atau tidak? Hari ini boleh jadi seseorang menjadi mustahik, tetapi tahun depan dia berubah menjadi muzaki karena sudah mapan secara finansial,” pungkasnya.
Bagikan berita ini: